Ditertawakan naik ojek karena istri bule

2017-01-11-gojek.jpg

Perempuan Indonesia yang menikah dengan bule pasti tidak lepas dari penilaian. Macam-macam label yang ditempelkan dan sayangnya kebanyakan bernada negatif. Tapi di sini aku nggak ingin membahas semua label-label itu. Cuman satu yang ingin kusenggol – label OKB (orang kaya baru). Konon katanya banyak perempuan Indonesia istri bule yang  suka pamer harta dan sok kaya (plus suka gengsi). Jadi nggak heran kalau semua istri bule suka disamaratakan seperti itu. Nah, sehubungan dengan label OKB ini aku jadi kena imbasnya – aku ditertawakan naik ojek.  Lho, apa hubungannya? Ada cing! Karena, seharusnya, seyogyanya, selayaknya ‘Nyai Dasimah’ nggak naik ojek. Bukankah ‘Tuan Meneer Edward’ itu duitnya banyak? Emang nggak bisa beli mobil? Ih pasti si Meneer bule kere! Begitu kira-kira.

OJEK. Sekitar 15-17 tahun lalu aku sudah lihat di mana-mana terutama di daerah terpencil. Ojek diminati karena biayanya yang murah dan effisien. Cuman waktu itu masih banyak orang yang gengsi naik ojek terutama anak muda. Nggak keren atau nggak ‘kekotaan’ katanya. Ada juga yang bilang naik ojek tuh keliatan tanda tak mampu beli kendaraan. Makanya waktu tinggal di Bangkok, aku kaget ketika pertama kali melihat ojek ada di mana-mana. Yang naik mulai gadis cantik mulus sampai bule. Aku nggak tahu apa orang Thai yang kaya juga naik ojek. Yang aku tahu pemandangan orang asing (terutama bule) naik ojek bukan hal yang aneh. Padahal, seperti di Indonesia juga, di Thailand orang bule itu dianggap seperti ‘Tuan Meneer Edward’ yang kaya. Pada jam-jam macet sering kulihat bule berdasi dan bawa tas laptop naik ojek. Di Jakarta aku juga beberapa kali lihat bule naik ojek, tapi tidak sebanyak di Bangkok. Mungkin karena orang asing  di Jakarta nggak sebanyak di Bangkok.

Di Bangkok kami sering naik ojek untuk menghindari kemacetan. Biasanya kami naik ojek untuk pergi ke stasiun MRT atau Skytrain. Sering juga pak sopir cuma ngedrop di satu titik lalu kami tukar dengan ojek sampai tujuan. Makanya pas pindah Jakarta kami langsung tertarik dengan aplikasi Gojek yang menurutku sangat oye! Dengan bangganya kupamerkan ke teman-teman Thai ku dan mereka sekarang lagi berharap harap adanya sistem kayak Gojek di negaranya.

Di Jakarta aku menggunakan jasa ojek sekitar 2-3 kali seminggu untuk pergi nge-gym atau ke kelas yoga yang lokasinya hanya lima menit dari rumah. Bayangin kalo aku harus naik mobil atau taxi? Bisa menyumbangkan kemacetan daerahku yang memang terkenal maceeettt!!

Tapi ternyata, meski jasa ojek beraplikasi sudah sangat populer saat ini, dan bahkan beberapa selebriti kabarnya juga naik ojek, nggak semua orang berminat naik ojek dengan alasan tertentu. Selain dua alasan yang sangat kumaklumi – yaitu risih dibonceng laki-laki yang bukan muhrimnya dan alasan keselamatan, ada juga satu lagi alasan yang bikin aku takjub – gengsi. Alasan gengsi ini membuat orang rela lebih lama di jalan dengan naik mobil atau taxi meski jaraknya cuman beberapa km, yang penting nggak sampai kepanasan, kena polusi, keringatan, dan rambut awut-awutan. Memang sih, ojek bukan sarana transport yang tepat buat berangkat kondangan. Apalagi buat para fashionista, big no no – begitu helm dicopot rambut langsung kempes. Tapi kalau sekedar pergi ke acara casual apalagi kalau jarak dekat ojek adalah transport yang tepat. Menurutku sih, soalnya aku tergolong manusia casual.

Oh ya, aku tuh sudah biasa naik motor atau dibonceng motor. Waktu kecil transportku ke sekolah malah sepedah. Naik motor setelah punya penghasilan sendiri. Waktu itu mampu beli motor rasanya gaya banget. Setelah tinggal di Jerman justru aku lebih suka naik sepedah meski ada mobil. Jiwa orang sana yang suka ‘back to basic’, ‘back to nature’ dan segala back-backan lainnya sedikit banyak telah ‘meracuniku’. Di Jerman kalau memungkinkan (pas musimnya pas dan bukan tinggal di pegunungan) orang cendrung milih naik sepedah ketimbang naik mobil atas alasan hemat energi (karena bahan bakar mahal), kesehatan dan lingkungan. Bahkan di kota tempat tinggalku orang ngantor pake jas dan dasi pun transportnya sepedah. Nggak ada yang namanya gengsi. Tapi begitu kembali ke Indonesia mind-set ‘back-back ‘an yang sudah terpatri tiba-tiba harus direset ulang – bahwa seolah tingkat kesejahteraan penduduk Indonesia itu diukur dari jumlah roda kendaraannya. Roda harus empat, nggak boleh lebih dan nggak boleh kurang (kecuali kalau roda duanya itu Ducati Multistrada).

DITERTAWAKAN SANG FASHIONISTA

Ceritanya ada teman lama datang ke rumah. Sedikit gossip tentag temanku ini, dia ini tipe wanita fashionista yang kalau di medsos haram hukumnya masang foto jelek. Kebanyakan foto selfinya pasti di event-event mewah atau minim di dalam mobil. Dia hampir selalu tampil chic. Sekilas baca postingnya, check-in nya, atau lihat fotonya orang pasti mikir dia pasti dari golongan yang bantalnya berisi lembaran gambar Bung Karno. Yang menarik, berdasarkan kabar burung katanya temanku ini sebenarnya dari golongan ‘BPJS’ alias Bajet Pas-pasan Jiwa Sosialita. Entah benar apa nggak, bukan hakku untuk menilai, tapi yang aku tahu memang dari dulu aku nggak pernah lihat dia naik angkot. Dia lebih milih pinjam uang teman buat naik taxi daripada naik angkot, meski angkot seliweran di depan hidung. Aku juga nggak pernah lihat dia naik motor, dan nggak bisa kubayangkan dia naik ojek.

Kebetulan hari itu aku baru pulang nge-gym. Melihatku turun dari ojek dia tertawa.

“Aih si Mrs. Bule naik ojek!” katanya sambil tertawa lembeng genit nan manja. Aku tersenyum kecut, bukan karena ledekannya, tapi karena sebutan Mrs. Bule. Kecewa aja karena secara tak langsung aku kena label OKB seperti yang kusebut di atas.

“Emang istri bulu dilarang naik ojek ya?” tanyaku bercanda.

Dia jadi salah tingkah.

“Bukan gitu Say, cuman kaget aja ternyata kamu mau juga naik ojek.”

“Emang kamu nggak pernah naik ojek?” tanyaku pura-pura amnesia.

“Aku tuh say, bukannya nggak mau naik motor. Dari kecil aku nggak pernah naik motor. Jangankan naik, ngelihat orang naik aja dah atuuut..” katanya lagi.

PSST…SESAMA ISTRI BULE JANGAN BILANG-BILANG KALAU NAIK OJEK

Pengalaman kedua saat aku janjian ngopi dengan teman baru di sebuah mall. Jaraknya juga lima menit dari rumah. Si teman baru ini orangnya baik dan ramah. Suaminya juga orang asing. Terus terang aku niat berteman dengan dia karena ‘jatuh cinta’ pandangan pertama. Dia jauh dari kesan label-label yang suka ditempel ke para Missis Bule. Si ibu ini orangnya sederhana dan gaya bicaranya pun down to earth. Pokoknya ngobrol sama dia menyenangkan.

Pas mau pulang tiba-tiba mendung. Kami pun resah takut kena macet kalo hujan deras. Aku pun pamit pingin cepat-cepat pulang sebelum keburu hujan. Lumayanlah lima menit pasti dah nyampai rumah. Percakapannya begini:

“Bawa mobil atau diantar sopir mbak?” tanya si ibu ini.

“Oh aku tadi naik ojek. Aku juga mau pulang naik ojek nih. Mesti cepet-cepet pesen mumpung belum hujan.” jawabku sambil buka applikasi ojek.

Lha, si ibu ini tertawa sambil nutup mulutnya. “Hah? Naik ojek mbak?” katanya terkaget-kaget sambil tertawa. Tapi begitu lihat mukaku yang sengaja kupasang seolah heran melihatnya tertawa dia buru-buru berhenti tertawa. Aku jelaskan ke dia: “Rumahku cuman lima menit dari sini mbak. Kalau aku naik taksi atau naik mobil bisa setengah jam nyampe rumah. Males ah, nambah-nambahin macet aja.”

IBU JURAGAN KOK NAIK OJEK?

Ceritanya dapat PRT baru. Waktu pesan ojek aku lupa ngasih tahu dia. Lama nunggu di garasi si sopir ojek nggak datang-datang. Si PRT nanya:

“Ibu lagi nunggu apa kok dari tadi lama duduk di garasi?”

“Lagi nunggu ojek.”

“Oh, jadi ojek tadi itu buat ibu? Maaf bu saya suruh pergi.”

“Kok disuruh pergi?”

“Lha, saya pikir salah alamat. Saya kan nggak pesen ojek, trus di rumah cuman kita berdua aja. Ya, saya nggak nyangka kalau ibu pesen ojek.”

“Emang saya nggak boleh pesen ojek?”

Sambil senyum-senyum si PRT baru bilang: “Ya kayaknya nggak mungkin gitu lho ibu boss naik ojek.”

GLODAK!!!

Gimana, kalian pernah punya pengalaman seperti di atas?

Advertisements

Perempuan Indonesia dan stigma PRT di Arab Saudi (Bagian 2)

2017-02-09-stigma-perempuan-indonesia2.jpg

Posting ini lanjutan dari posting sebelumnya: Perempuan Indonesia dan stigma PRT di Arab Saudi (Bagian 1). 


Di bagian pertama aku bahas ranking rasisme dan diskriminasi di Arab Saudi berdasarkan kewarganegaraan dan penampakan fisik. Dan Indonesia termasuk rangking bawah (meski bukan yang terbawah). Lalu setelah aku di sana, apa aku juga mengalami rasisme dan diskriminsi?

Jawabanya YA dan TIDAK.

Diskriminasi? YA. ‘YA’ nya cukup solid karena aku merasakan sendiri perbedaan sikap orang-orang di sana saat aku sendiri atau saat didampingi suami yang orang bule. Saat aku sendiri eksistensiku adalah murni orang Asia Selatan (bisa jadi Indonesia atau mungkin Philipina). Saat aku dengan suami eksistensiku terbayangi oleh sosok suami, seolah aku sebagai ‘pelengkap’.  Artinya, jika aku sendiri maka treatment yang aku dapat ya selayaknya orang yang berasal dari Asia Selatan – yang sering mendapat asumsi TKW. Kalau aku dengan suami treatment yang aku dapat lebih mengacu kepada suami sebagai orang bule. Bule di Arab Saudi sangat dihormati (ranking ke-2). Jadi sebagai ‘pelengkap’ aku kena imbasnya juga. Hal ini juga berlaku saat aku bersama teman-teman bule perempuan, misal kalau pas jalan bareng ke pasar lokal, cuman sayangnya kadang di tempat tertentu justru aku dikira PRT dari salah satu mereka. Hehehe.

Bagaiana dengan rasisme? TIDAK pernah mengalami.

Jadi yang dibahas soal diskriminasi aja ya. Sekedar gambaran, di sana kontak langsungku dengan orang Saudi terbatas untuk urusan birokrasi, belanja, event, atau sekolah. Aku justru lebih sering berinteraksi dengan pendatang lainnya yang berasal dari berbagai negara. Dan diskriminasi yang aku maksud di sini tidak selalu datang dari orang Saudi, tapi juga dari pendatang.

Oh ya, kami tinggal di sebuah perumahan untuk orang asing yang biasa disebut Compound. Yang tinggal di dalam compound biasanya orang-orang Arab selain orang Saudi, orang-orang bule, dan orang-orang Asia seperti India, Pakistan, Jepang, Korea dsb. Ada beberapa orang Saudi tapi mereka berpasspor asing.

Untuk bisa tinggal di compound biasanya harus melalui perusahaan. Ada beberapa compound yang memang dimiliki oleh satu perusahaan, tapi pada umumnya rumah-rumah di dalam compound dikontrak oleh perusahaan-perusahaan untuk ditempati karyawannya. Jadi semacam rumah dinas.

Di dalam compound biasanya terbentuk grup-grup ‘sosialita’. Kadang sebuah grup terbentuk karena suami mereka bekerja di perusahaan yang sama tapi yang sering grup terbentuk berdasarkan warga negara atau ras, misal grup Perancis, grup Asia, grup Arab, grup Inggris, grup Amerika dsb. Tapi ada juga yang nggak pakai grup-grupan tapi campur jadi satu dalam satu komuniti. Dari grup-grup itu biasanya grup Arab yang paling besar karena pendatang dari negara-negara Arab lah yang terbanyak. Grup lain yang cukup besar adalah grup Lationo, terdiri dari negara-negara Amerika Latin dan kadang Eropa juga seperti Spanyol dan Portugis. Bahkan Italia juga masuk grup ini. Orang-orang Asia pun membentuk grup. Yang menonjol grup Jepang dan grup Korea. Mereka biasanya ‘mengisolasikan’ diri dari grup-grup lainnya karena kendala bahasa.

Lha aku masuk grup mana? Aku masuk grup ‘minoritas’. Kusebut minoritas karena jumlahnya yang sedikit dan isinya gado-gado. Mereka ini orang-orang Pakistan, Malaysia, India, Philipina, dsb. Kok minoritas? Bukannya banyak sekali  warga Indonesia, India, Pakistan dan Philipina? Memang tapi yang tinggal di compound sangat sedikit. Biasanya mereka tinggal di rumah individu seperti orang-orang Saudi.

Demi keamanan ibu-ibu melakukan aktifitas di luar compound secara kolektif. Kecuali yang memiliki sopir pribadi biasanya perempuan enggan keluar compound sendirian. Tiap compound menyediakan bis shuttle untuk melayani keperluan belanja ke supermarket, mall atau mengunjungi event-event bulanan seperti pameran atau coffee morning.

Nah, inilah contoh-contoh kejadian ‘diskriminatif’ yang aku alami. Siap-siap, bacaannya panjang ya…

BERHADAPAN DENGAN NATIONAL GUARD

Di Riyadh ada sebuah area yang disebut Diplomatic Quarter. Di sinilah pusat dari segala kedutaan asing. Untuk masuk ke sini pengunjung harus melalui pengawasan security yang cukup ketat. Mereka ini tentara militer yang dilengkapi dengan persenjataan. Aku datang ke sini biasanya untuk ngurus dokumen di KBRI atau di kedutaan Jerman. Kalau aku datang ke sini dengan sopir maka prosesnya lumayan ribet. Biasanya setelah mereka melihat mukaku mereka langsung nanya tujuan dan aku harus menyerahkan Iqoma (KTP untuk orang asing). Sopir juga melakukan hal yang sama. Iqoma biasanya dibawah pergi entah untuk dicatat atau mungkin discan trus dikembalikan lagi. Mobil pun dicek pake alat deteksi bom dengan teliti. Kap mobil depan belakang nggak lupa dibuka dan dicek. Kalau semua clear baru boleh masuk.

Tapi kalau aku datang ke sini dengan suami, jangankan ditanya Iqoma, suami cukup menurunkan cendela mobil dan bilang tujuan. Alat deteksi bomnya pun dioperasikan ala kadarnya. Kadang nggak sama sekali. Trus langsung wuss masuk tanpa ba bi bu. Nggak jarang kami dapat ucapan: “Oke, have a nice day, Sir.” Not bad kan? Kadang aku mikir, kalau teroris mau bikin huru hara di sini, cukup bawa sopir bule aja.

TETANGGA-TETANGGA ARAB YANG BUKAN SAUDI

Awal-awal aku tinggal di compound teman-temanku terbatas orang-orang bule atau Asia lainnya. Mereka jauh lebih welcome dibanding orang-orang Arab. Bukannya mereka menolakku masuk, tapi dari bahasa tubuh seolah tak tertarik dengan keberadaanku. Entahlah, aku beberapa kali berusaha bergabung tapi sering mendapat tanggapan dingin.

Beberapa kali aku pergi dengan bis shuttle hanya aku satu-satunya orang Asia. Sisanya orang Arab semua. Aku pun seperti alien mulai berangkat sampai pulang karena nggak ngerti bahasa Arab. Jangan salah, mereka fasih bahasa Inggris juga. Sayangnya pertanyaanku hanya mendapat jawaban sepatah dua patah.

Suatu hari temanku orang Inggris ikut bis shuttle. Kami ngobrol lama sambil ketawa-ketawa. Kebetulan aku pernah tinggal di Inggris yang lokasinya satu county denganya. Jadi pembicaraan pun nyambung. Pas lagi belanja sendirian di salah satu toko yang kebetulan beberapa orang dari grup Arab juga ada di sana, salah satu dari mereka menghampirku. Dia bertanya: “Maaf, kamu orang baru?” Kujawab: “Iya, tapi cukup lama juga, sudah delapan bulan.”Lalu dia bilang nggak pernah lihat aku seliweran. Pikirku: Yailah, anak kita satu TK buk. Tiap pagi aku juga lihat kamu. Tapi kamunya cuek. Dan dia pun mengenalkan diri. Ternyata dia orangnya ramah.

Setelah setahun lebih akhirnya aku bisa juga berteman dengan beberapa tentangga Arab. Ternyata betul dugaanku, awal-awalnya aku dikira nanny karena mereka sering lihat aku main di playground sama anakku. Biasanya mereka memang menyerahkan urusan main di playground ke nanny. Sementara sang nanny main-main sama anak para ibu ini ngongkrong di cafe sebelahnya sambil memantau dari jauh. Lha karena aku lebih suka bermain dengan anakku daripada kuserahkan ke orang lain, maka aku yang berwajah Asia Selatan ini dikira nanny juga. Oh, pantes kok sikap mereka kaku amat tiap kali aku sok ramah sama ibu-ibu ini. Kali mereka risih karena aku dikira PRT atau nanny yang sok akrab.

DISROBOT SAAT NGANTRI DI MALL

Suatu hari di sebuah Department Store. Antriannya panjang banget waktu bayar. Toko-toko garmen dan Department Store di Riyadh nggak punya changing room  buat nyoba baju. Kalau mau nyoba harus bayar dulu trus nyoba di toilet wanita atau dibawa pulang. Kalau nggak cocok dikembalikan lagi pakai ngantri dikasir campur sama orang-orang  yang mau bayar. Jadi antrian bisa panjang banget. Dan seperti di Indonesia banyak juga orang Saudi yang malas ngantri. Banyak orang bule mengeluh tentang kebiasaan orang Saudi yang males ngantri. Aku sih no comment, wong di negaraku sendiri juga banyak yang males ngantri. Hehe.

Ceritanya beberapa menit lagi adzan Dhuhur. Waktu sholat semua toko harus tutup kalo ngga mau dapat masalah dari polisi Shariah (Mutawa) yang suka sweeping di mall. Wah kalo dah gini biasanya antrian yang terdiri dari wanita semua ini panik, nggak sabar pingin cepat dilayani biar perjalanan ke mall nggak sia-sia. Aku berdiri urutan ke enam dari depan sambil ketar-ketir. Di depanku semuanya orang bule (meski semua pakai Abaya hitam mereka ngga mengenakan hijab. Jadi aku tahu mereka bule). Sementara aku lihat ada seorang ibu Saudi yang berdiri di luar antrian dan nunggu di meja kasir. Bawaannya tas plastik berisi baju ditaruh di atas meja kasir. Dari seluruh wajah aku cuman lihat matanya yang mengawasi antrian. Bahasa tubuhnya serasa nggak sabar. Sepertinya dia mau tukar belanjaan atau refund. Tapi anehnya dia nggak ngantri. Oh ya, darimana aku tahu kalau dia orang Saudi? Dari jenis Abaya dan niqab (cadar) nya. Tapi bisa jadi aku salah.

Nah, si ibu Saudi ini sepertinya ambil ancang-ancang siap mau nyrobot tapi nunggu momen yang tepat. Eh, benar juga. Pas giliranku dia langsung motong tanpa permisi. Si kasir yang kayaknya orang India kaget juga tapi entah apa pembicaraan mereka yang kedengarannya buru-buru tiba-tiba si ibu ini langsung dilayani. Ada kesan dia takut nolak. Tandukku pun keluar. Pake bahasa Inggris aku protes. Aku ketuk pundaknya dari belakang.

“Eh Miss, antri dulu. Yang lain pada ngantri dari tadi.”

Dia noleh dan memandangku beberapa detik. Susah mengartikan arti pandangannya karena ekspresi wajah tertutup niqab. Nggak tahu dia marah apa nggak. Setelah kutatap matanya baru sadar ternyata dia memang marah, serasa pingin bilang: ‘How dare you challange me like that!’ Habis itu melengos dan tetep aja melanjutkan aksi nyrobotnya. Aku ketuk aja lagi pundaknya. Lha, dia ngomel pake bahasa Arab dengan nada kesal. Tapi bodo amat. Yang bikin aku kesel tuh kenapa nyrobot pas giliranku, kenapa nggak bule-bule tadi? Jadi baper nih. Gagal mrotes dia aku pun menghampiri kasir.

“Eh mas, dia nyrobot kok dilayani?”

“Iya, soalnya dia buru-buru?”

“Emangnya kita semua nggak buru-buru? protesku sambil nunjuk orang-orang di belakangku.

“Maaf mam, udah terlanjur masuk program komputer.”

“Batalkan. Atau saya bicara sama manajermu?”

Dan si kasir pun membatalkan apapun yang sudah diketik lalu bilang sorry ke si ibu. Si ibu pun berkemas trus pergi. Tiba-tiba dibelakangku pada teriak: “YAEAH, GO GIRL. GOOD FOR YOU!!!” Ternyata di belakang juga ikut kesel. Pengalaman yang tak terlupakan…

BAPAK-BAPAK LEBANON YANG KASAR

Di compound ada satu keluarga Lebanon yang sering jadi bahan gosip. Biasalah namanya hidup di perumahan. Mereka digossipin karena lain dari yang lain. Katanya mereka sok VIP dan memang mereka sering dapat treatment VIP dari manajemen. Dengar-dengar dia punya koneksi dengan pemilik compound. Pokoknya tingkah lakunya sering dicap arogan. Si istri pun dapat sebutan Barbie Habibie karena dandanannya seperti replika boneka Barbie, pink dan blonde.

Suatu petang habis Maghrib aku pulang habis belanja ke mini market sambil nenteng tas plastik. Di luar sudah remang-remang dan sepi nggak ada siapapun. Jalan ke rumah aku harus lewat depan rumah Barbie Habibie ini. Sang misua lagi kerja di taman depan sambil ngadep laptop. Karena taman nggak rimbun dia bisa lewat orang yang lalu lalang depan rumah. Eh tiba-tiba Mr. Barbie Habibie ini bicara lantang:

“Hey, where are you going” (Hei, mau ke mana kamu?)

Aku noleh keliling. Bingung, ngomong sama siapa nih orang? Karena ngga ada siapa-siapa dan aku nggak kenal dia ya terus aja aku jalan. Eh, dia teriak lebih keras lagi. Kali ini nadanya agak membentak pakai kata ‘HEY YOU’ Diapun lari ke arah pagar, menengok ke arahku dan teriak lagi. Suaranya kasar dan marah. Aku sampai gemetar.

“HEY, YOU! WHERE DO YOU THING YOU’RE GOING?’

Aku masih bingung sambil lihat keliling. Bener, nggak ada siapa-siapa. Entah karena takut, kaget atau marah aku ngloyor aja. Dadaku naik turun. Harga diriku serasa disentil oleh teriakan kasar orang laki-laki yang nggak ku kenal. Aku yakin 100% aku lah yang diteriakin orang itu karena memang nggak ada siapa-siapa di jalan.

Tapi sampai rumah emosi nggak tertahankan. Aku taruh belanjaan dan pergi ke rumah Mr. Barbie Habibie. Dia kaget melihatku muncul di rumahnya dan tanpa ijin membuka pintu pagar. Dia yang masih duduk di kursi taman dengan laptopnya kuhampiri. Mukanya tampak heran.

“Anda tadi sepertinya teriak-teriak ke arah saya tapi tidak saya hiraukan. Saya pikir Anda bicara sama orang lain. Maaf kalau saya nggak sopan karena saya merasa nggak kenal Anda. Apakah kita pernah bertemu? Kalau iya, maaf saya lupa.” *Sengaja nih, sarkasme.

Dia gelagapan dan salah tingkah lalu buru-buru minta maaf.

“Oh, maaf, tadi saya pikir Anda orang lain. Dari gelap Anda mirip orang yang saya kenal.”

Lalu aku senyum sok ramah.

“Ah, coba tadi Anda panggil pakai nama *sarkasme lagi, pasti kan saya balik menjelaskan kalau saya bukan orang itu. Jadinya sekarang saya yang seolah nggak sopan. Maaf ya. Ok, kenalkan saya tetangga dari nomor 39.”

Dan aku pun mengenalkan keluargaku. Ngasih salam selamat malam dan pulang. PUASSS rasanya.

Besoknya aku cerita ke si mbak Philipina yang kerja part time di rumah. Dia ketawa ngakak. “Oh mam, orang itu emang terkenal sombong dan kasar. PRT mereka temanku. Pasti Anda dikira pembantunya yang nyolong keluar malam-malam. Soalnya potongan rambut dan posturnya sama persis.”

Dan teka-teki pun terungkap.

Yang lucu, beberapa hari kemudian baru tahu anaknya sekelas sama anakku di sekolah. Pas play date dia diantar bapaknya ke rumah. Ternyata Mr. Barbie Habibie nggak ingat wajahku di siang hari. Tanpa merasa bersalah dia mengenalkan diri. Kumat deh isengku. “Oh, kita sudah pernah kenalan tempo hari. Saya yang Anda teriakin malam itu.” Dia pun minta maaf lagi. Hehehe. Paling batinnya ‘shit shit shit’. 

PERCAKAPAN DENGAN SOPIR ‘LIMOUSINE’

Haha, di sana taxi tanpa meter sebutannya ‘limousine’. Jangan dibayangkan mobil sedan panjang pakai sopir berjas dan bertopi hitam ya. Yang namanya limousine itu seperti Grab Car atau UBER. Kita nelpon dan dia siap mengantar kemana saja. Yang nggak punya sopir lebih suka pakai jasa ini karena lobih aman. Kalau misal kena razia dia bisa membuktikan dari perusahaan sewa mobil. Maklum pira-wanita bukan muhrim dilarang satu mobil.

Pas di mobil si sopir yang orang India mulai ramah ngajak ngobrol. Aku jawabnya sepotong-sepotong karena terus terang aku pilih hati-hati bicara sama orang laki-laki yang nggak aku kenal. Entahlah, tinggal di Arab Saudi aku jadi terbiasa dengan privacy. Tiba-tiba dia nanya:

“Anda ini sebenarnya dari mana sih?”

“Dari Indonesia.”

“Oh, saya kira dari Philipine, soalnya bahasa Inggris Anda bagus sekali.”

“Terima kasih.”

“Anda bekerja buat orang Arab atau orang Eropa?”

“Saya tidak bekerja.”

“Ooh…” (mukanya tampak bingung tapi aku langsung tanggap).

“Oh, saya tinggal di compound itu sama keluarga saya. Suami saya bekerja di Riyadh”

“Suami Anda orang Indonesia juga?” (mukanya masih tampak ragu-ragu).

“Bukan.”

“Orang Arab?”

Mulai kesel nih aku ditanya-tanya pribadi gitu tapi tetep kujawab.

“Bukan, orang Jerman.”

“Oh, pantes!”(sekarang dia senyum manggut-manggut).

Sialan! Emang dikira orang Indonesia nggak bisa tinggal di dalam compound? Beberapa kenalanku yang suaminya orang Indonesia punya jabatan tinggi di perusahaan dan tinggalnya di compound juga. Aku sih nggak tahu berapa sewa rumah individu di Riyadh, tapi kayaknya orang otomatis mikir yang tinggal di dalam compound pasti orang kaya. Mungkin karena banyak orang asingnya. Entah.

DIBENTAK-BENTAK PETUGAS IMIGRASI WANITA DI AIRPORT

Ceritanya mau pulkam menjelang Ramadhan dengan penerbangan Garuda. Antrian security check penuh dan berjubel. Dari bahasanya aku tahu sebagian besar dari Indonesia. Nah, security check di sana dipisah antara laki dan perempuan. Perempuan dicek di dalam ruangan tertutup. Petugas imigrasi yang ngecek juga perempuan. Masuk ruang pengecekan yang sempit aku lihat si petugas ngobrol ramah sama ibu-ibu yang duduk di kursi lipat sambil di cek. Mereka tertawa-tawa. Kenalan kali, pikirku. Tiba gilaranku sikap si petugas berubah formal. Tiba-tiba si petugas bicara denganku pakai bahasa Arab dengan suara galak. Aku bingung, ngga ngerti sama sekali. Belum sempat protes dia teriak lagi lebih kenceng. Aku bilang dalam bahasa Inggris aku nggak ngerti bahasa Arab. Pastinya dia ngerti lah bahasa Inggris kan itu airport internasional dan orang asing bukan hal baru di airport. Tetep aja dia teriak-teriak sambil nuding sampai aku malu karena di belakangku sudah menunggu beberapa perempuan.  Tapi aku masih sabar. Aku bilang:

“Look, I don’t understand Arabic. Unless you explained in English I won’t understand what  you want.” (Saya nggak ngerti bahasa Arab. Kalau Anda nggak menjelaskan dalam bahasa Inggris saya nggak akan ngerti apa yang Anda inginkan).

Mukanya dah sebel banget deh liat aku. Dengan ekspresi nggak sabar dia nunjuk tanganku:

“Your phone!”

Oh, ternyata aku masih pegang HP, lupa naruh di keranjang pengecekan sama tas, laptop dll. Yailah, bilang dong buk dari tadi daripada buang-buang energi bentakin orang! Ternyata maksud dia aku suruh balik, taruh HP di kotak sama barang-barang lainnya.

Aku jadi heran. Dengan sesama Saudi si petugas bisa ketawa ketiwi. Sebelum lihat HPku sikap si petugas pun sudah berubah. Andai dia bisa bersikap profesional seperti petugas bandara di negara lain. Di airport manapun pasti petugas nemuin banyak penumpang yang aneh-aneh (kayak aku yang pegang HP), tapi ya harus punya manner lah. Jiwa Customer Service-nya itu lho di mana? Coba di tempat lain pasti bilangnya: “Mam, please leave your handphone in the provided place.” Tegas tapi sopan.

Pas habis dicek, mbak-mbak Indonesia di belakangku bilang, “Emang suka begitu buk mereka. Kalau melayani orang Indonesia suka bentak-bentak.”

Pengalaman berikutnya…

Kali ini aku dah lebih pinter, dapat tip yang cukup lucu dari seorang teman Pakistan. Dia bilang, kalau ke airport pakai Abaya terbagus, sikap tegak dan jangan tampak ragu dan segan, ngomong Inggrisnya pakai artikulasi yang jelas. Dijamin petugas berubah sikap. Oh ya, kalo nggak ribet pakai sepatu hak tinggi. Bhuahaha… tip yang konyol tapi ternyata memang membantu. Oke, aku ngga suka pake hak tinggi saat traveling tapi kali ini kupakai Abaya terbaikku. Oh ya, sudah biasa petugas imigrasi suka nanya tujuan penumpang. Kadang mereka tahu flight apa hari/jam itu. Malam salah satu penerbangan Lufthansa arah Munich.Begitu aku dicek si petugas nanya. Kali ini nadanya biasa-biasan aja.

“Mau kemana?”

“Ke Munich?”

Dia memandangku agak gimana gitu.

“Ke Munich? Ke Jerman?” (nah, ketahuan kan kalau diragukan?)

“Emang ada beberapa Munich?” candaku. Dia ikut tersenyum.

“Darimana Anda?” Meski dalam bahasa Inggris ‘Where’re you from?’ artinya ‘Dari mana’ tapi maksudnya lebih ke ‘Berasal dari mana’. Aku jawab:

“Ich komme aus Deutschland.” Sambil ngeplas nggak noleh lagi. Nggak tahu gimana expresi dia.

Tapi syukurlah, dua tahun kemudian pelayanan airport Riyadh jauh lebih baik setelah salah satu website memasukkannya ke ranking airport terburusk di dunia. Semenjak itu reformasi habis di bandara. Sudah nggak kutemui lagi petugas imigrasi yang judes.

PERLAKUAN BANGSA SENDIRI DI KBRI RIYADH

Di negara manapun, warga Indonesia yang tinggal di sana harus melaporkan diri ke KBRI atau KONJEN RI. Salah satu kegunaanya agar pihak KBRI atau Konsulat mempunyai data warganya sehingga jika terjadi sesuatu mereka bisa membantu. Kegunaan lainnya adalah untuk memperlancar proses pengurusan dokumen karena data kita sudah tercatat dalam sistem. Biasanya untuk Lapor Diri aku cuman isi formulir yang bisa diprint dari website KBRI trus dikirim bersama passpor lewat post tercatat. Tapi berhubung di website KBRI Riyadh nggak kutemukan formulir Lapor Diri jadi aku langsung ke sana.

Inilah pengalamanku…

Di kantor KBRI suasana hiruk pikuk. Karena terbatasnya tempat duduk banyak orang yang duduk-duduk di lantai. Aku lihat banyak perempuan-perempuan Indonesia yang didampingi laki-laki Saudi. Dari pembicaraan sepertinya mereka pendatang baru yang akan bekerja di Arab Saudi. Bisa jadi bapak-bapak Saudi itu calon majikan atau mungkin agen. Yang menarik antrian nggak dipisah antara laki dan perempuan seperti yang kubayangkan. Loket pun terbatas dan sepertinya tempat itu lah yang menjadi pusat pelayanan. Kubaca loketnya satu persatu tapi hampir semunya untuk antrian ketenagakerjaan. Hanya ada satu loket untuk pengurusan passpor. Jadi kupikir pasti loket itu juga untuk urusan konsuler. Aku pun antri. Setelah sampai giliranku, aku bilang mau minta formulir Lapor Diri. Begini percakapannya

“Pagi pak, mau minta formulir lapor diri.”

“Lapor apa?” tanya petugas.

Aku jadi bingung sendiri. Lho kok kayak mau lapor kemalingan.

“Saya mau melaporkan diri Pak. Saya baru di Saudi, saya ingin melapor.’

Petugas itu tertawa.

“Anda ini lho mau apa?” Dia masih tertawa. Bunyinya agak mengejek yang disambut tertawaan petugas lainnya. Orang-orang di sekitarku memandangku. Aku jadi risih. Tapi aku masih bersabar.

“Emang Anda sudah berbuat apa kok pake melapor segala?”

“Pak, bukannya warga Indonesia harus lapor diri kalau baru datang?”

Lalu petugas itu memanggil orang lain. Sebut saja namanya Andi.

“Ndi, Andi, tolong layanani ibu ini. Nggak tahu tuh apa yang mau dilaporin.”

Aku sangat kecewa dengan pelayanan yang nggak profesional ini. Lalu datang bapak yang dipanggil ‘Andi’. Dia muncul dari kerumunan orang. Dia nggak tampak seperti petugas. Bajunya biasa dan sepertinya dia sudah tahu banget seluk beluk kantor KBRI. Dugaanku, dia calo atau agen atau kepanjangan tangan petugas KBRI. Pak Andi ini ngajak aku keluar antrian.

“Ibu ini mau lapor apa sih?” tanyanya dengan suara nggak sabar.

Aku pun nggak kalah, lebih nggak sabar lagi karena emosi. Emosi karena diperlakukan kayak orang bodoh. Tapi perkataan tetap kujaga datar.

“Pak, ini bukan pertama kalinya saya ke luar negeri (terpaksa jadi nyombong deh). Di negara manapun Pak saya diwajibkan untuk lapor diri. Saya ke sini berniat baik lho Pak, kok malah ditertawakan? Kalau KBRI nggak punya data saya, gimana nanti kalau saya mengalami kesulitan di sini?”

“Buk, kita ini di sini semuanya sibuk. Banyak urusan. Ibu lihat sendiri orang-orang yang nunggu itu? Mereka semua punya urusan penting. Gini aja bu, coba ibu ke kantin. Tanya sama ibu yang di sana, biasanya dia tahu urusan-urusan lain.”

Pak Andi pun pergi. Aku kesal minta ampun. Tapi gobloknya pergi juga aku ke kantin. Kupikir siapa tahu di sana ada orang-orang yang memang ngurusin kerjaan sambil ngopi di kantin (ya sapa tahu hal begituan berlaku di sini). Tapi sampai dikantin nggak ada orang. Cuman sorang ibu yang berdiri di belakang meja jualan yang penuh makanan Indonesia siap saji. Saya lihat keliling, sepi. Waktu itu memang belum jam makan siang. Si ibu melihat saya. Tiba-tiba dia bilang:

“Mau beli apa? Cepat aku lagi sibuk nih!”

Yailah ketus amat. Saya mendekati dia dan tetep sopan.

“Maaf buk, saya bukan mau makan. Tapi saya ketemu bapak yang namanya Pak Andi mau ngurus Lapor Diri, disarankan ke sini siapa tahu ketemu orang yang bisa ngurusin.

“Nggak ada. Nggak ada!” Dia berbicara kasar sambil mengibaskan tangan, nggak menatapku juga. Sambil ngiris mentimun si ibu ngomel: “Di sini tuh tempat makan. Orang kesini nyari makanan bukan ngurus surat. Mau ngurus ya ke kantor sana bukan di sini! Emangnya ini kantor? Ini kantin. Sudah ke kantor sana!”

Aku terhenyak. Gile, nanya baik-baik malah dimarahi! Dia jengkel karena pertanyaanku, gimana aku yang dipermainkan si Andi itu? Lalu kenapa juga sikapnya seperti nggak menghargai orang? Seolah aku ini gembel?

Aku paham seratus persen perkataan si ibu ini. Kalau aku jadi dia pasti juga heran ada orang ke kantin nanya petugas konsuler. Tapi yang aku nggak paham, sebegitu menjengkelkan kah pertanyaanku sampai aku tak pantas untuk ditanggapi secara sopan? Atau jangan-jangan dia bersikap seperti itu bukan karena pertanyaanku tapi karena ‘siapa’ aku? Logikanya, saat kita menemui orang yang nggak kita kenal dan kelihatan ‘bodoh’sekalipun kita masih bisa memilih untuk bersikap, sopan atau kasar. Kayaknya ibu ini cuman punya satu pilihan? Kasar. Kenapa?


Contoh di atas hanya beberapa. Masih banyak kejadian-kejadian kecil lainnya yang ujung-ujungnya karena aku dikira PRT atau nanny. Bahkan ada juga kejadian yang menggelikan saat aku berkenalan dengan guru renang anakku. Setelah ngobrol beramah tama dia baru ngeh kalau aku bukan nanny anakku setelah dia nanya: “Anak asuhnya orang mana?” Aku jawab: “Oh, itu anakku.”

Kesimpulannya, kejadian-kejadian diatas terjadi karena orang gampang berasumsi begitu melihatku. Apa yang membuat mereka berasumsi? Penampilanku yang mungkin biasa-biasa saja (sebagaimana umumnya penampilan PRT)? Warna kulitku yang menunjukkan dari daerah mana aslku? Bentuk wajah dan mataku atau tinggi badanku yang jelas menunjukkan aku orang Indonesia/Philipina (yang rata-rata PRT)?

Entah, sampai sekarang aku penasaran. Yang jelas tretment yang kudapat balik 180 derajad jika aku berdandan, pakai sepatu hak tinggi, menenteng tas cantik, mengenakan Abaya yang berdekorasi, dan mengenakan acessories. Apalagi jika sedang menghadiri acara-acara di hotel berbintang. Tak sekalipun aku mengalami perlakuan diskriminatif.

 

 

Perempuan Indonesia dan stigma PRT di Arab Saudi (Bagian 1)

2017-02-09-stigma-perempuan-indonesia

Waktu dapat kabar suami dapat tawaran kerja di Arab Saudi ibu mertuaku protes. Dia nggak setuju karena khawatir sama anak mantunya. Dimaklumi, dia orang Jerman. Kebanyakan orang Jerman punya opini seragam tentang Arab Saudi. Dan opini yang paling mengusik mereka adalah ‘penindasan kaum perempuan’. Dan mertuapun penasaran. Berhari-hari browsing internet, nyari informasi tentang gaya hidup di Arab Saudi. Tapi berita yang dia dapat justru yang aneh-aneh. Jangan-jangan dia cuman pakai keyword negatif. Yang muncul berita yang sadis-sadis – perempuan diperkosa tapi malah masuk penjara, perempuan dicerai lewat Skype, TKW disiksa, dan sejenisnya. Lha…??

Sementara ibu mertua mengkhawatirkan hal-hal yang dirasa berat untuk standar orang bule, aku justru mengkhawatirkan hal-hal yang kurasa berat untuk standar orang Indonesia. Soalnya apa yang dirasa ‘berat’ untuk standar bule buatku sih biasa-biasa aja. Misal, mertua keberatan kalau perempuan harus pakai abaya hitam dan kemana-mana harus ditemani suami. Dia pikir aturan itu dibuat untuk membatasi kebebasan perempuan. Sementara buatku abaya hitam adalah bagian dari adat dan budaya setempat. Namanya pendatang mau ngais rejeki, ya harus nurut tata tertib setempat toh? Seperti peribahasa: ‘Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung’, yang artinya kita sebaiknya selalu mengikuti kebiasaan dan adat istiadat di tempat kita berada.

Yang aku khawatirkan itu justru hal-hal yang mengarah ke pribadiku, seperti rasisme atau diskriminasi. Nah, yang sering kita dengar tentang Arab Saudi terhadap saudara-saudara kita di sana kan dua hal tersebut? Jadinya kan aku agak was-was. Apalagi setelah berkali-kali browsing dengan dua keyword ‘Indonesia’ dan ‘Arab Saudi’ kok ya berita yang muncul justru bikin  gundah gulana, terutama yang menyangkut nasib orang Indonesia.

Meski belum kami putuskan tetap kami berangkat ke Riyadh untuk survey. Kok ya pas waktu itu pemberitaan tentang TKW Ruyati binti Satubi Saruna yang terjerat hukuman pancung lagi gencar-gencarnya diberitakan. Wuahh, emosional hamba. Apalagi pas perjalanan ke airport mau pulang aku sempat lihat pemandangan yang mengusik. Di bawah sebuah jembatan layang aku lihat banyak sekali orang-orang Asia yang mirip orang Indonesia lagi tidur-tiduran, jemur baju, nimang anak… Mereka laki-laki, perempuan, tua, muda, dan anak-anak. Di sekitar mereka banyak sampah, box-box dan koper. Aku langsung mikir, lho, katanya laki perempuan nggak boleh campur tapi ini kok nggerombol? Di tempat umum lagi. Wong di McDonald aja ngantrinya di pisah laki sama perempuan. Lha ini kok malah cangkruk bercengkerama? Sebelum sempat nanya, calon kolega suami yang satu mobil dengan kami (dia orang Saudi campuran Austria) menjelaskan kalau mereka adalah warga Indonesia ilegal yang akan dideportasi. Mak cleguk! Langsung seret tenggorokan. Lhoalah Gusti, sesak dadaku. Aku mikir, beginikah gambaran bangsaku di negara ini? Aku tanya sama si blasteran ini, kok mereka boleh campur gitu? Kok nggak diobrak-obrak sama Mutawa (polisi syariah). Dengan wajah agak kikuk kayak sungkan dia bilang kalau mereka itu perkecualian. Pemerintah sudah nggak tahu lagi bagaimana mengatasinya. Jumlahnya terlalu banyak. Secara aturan memang dilarang laki peremupan ngumpul jadi satu, tapi gimana lagi? Jadi ya dibiarkan saja.

Sekali lagi, oalah Gusti, aturan Arab Saudi yang super ketat aja bisa mental dalam menghadapi masalah bangsaku sampai masuk ‘perkecualian’, hanya saja ini bukan perkecualian dalam arti istimewa tapi sebaliknya. Lha sampai nggak diurus begitu?Bangsaku ketere-tere di bawah jembatan. Lha nggak heran kalau ada yang meremehkan mereka, mengangap rendah, ndablek, nggak nurut aturan… Nggak usah mikir gimana pandangan orang Saudi terhadap mereka, cukup bayangkan bagaimana pandangan tenaga kerja dari negara lainnya. Ngenes.

Singkat cerita setelah semua paperwork tuntas kami memutuskan berangkat. Dua minggu sebelum keberangkatan kami menghadiri Cross Culture training yang disediakan perusahaan. Tujuannya agar kami tidak menghadapi shock culture di sana. Si trainer cukup ahli di bidangnya, khususnya tentang budaya Timur Tengah. Dia sendiri berasal dari Oman yang sudah lama tinggal dan bekerja di Jerman. Dalam training tersebut kami belajar untuk memahami adanya benturan-benturan antara budaya Timur Tengah dan Eropa dan bagaimana cara mengatasinya. Tema yang nggak nyrempet sama kepentinganku sebagai orang Indonesia. Tema itu memang penting buat suami, tapi dia sudah pernah tinggal di Iran yang peraturan-peraturannya buat standar bule juga cukup ketat, mirip seperti di Arab Saudi. Dari pengalaman itu aku yakin dia akan cepat beradaptasi dengan tata cara kehidupan di Arab Saudi. Sementara buatku tema Arab Saudi tentunya bukan hal asing meski aku belum pernah tinggal di sana. Setidaknya aku sudah pernah dengar atau baca. Jadi dua jam training tersebut rasanya lama sekali karena sebagian besar topik sudah kami mengerti. Aku yakin tanpa training pun suamiku akan baik-baik saja selama dia mentaati peraturan setempat. Halah, menurut informasi kehidupan orang bule di Arab Saudi itu lumayan oye kok. Dari beberapa blog yang aku baca gambaran kehidupan orang bule di sana itu seperti ‘perjalanan eksplorasi budaya’ yang diwarnai dengan traveling, art, top ten kulinaris dan shopping, koleksi Abaya terkini, perkumpulan wanita asing, kegiatan charity, workshop, coffee morning dan sejenisnya. Beda amat sama cerita-cerita TKW kita! Akhirnya aku justru minta si trainer menjelaskan gimana nanti nasibku di sana sebagai warga Indonesia? Apakah aku juga bakal menghadapi diskriminasi atau rasisme? Dia meyakinkanku aku tidak akan mengalami kedua hal tersebut karena kondisiku di sana bukan sebagai pekerja domestik.

Nggak puas, aku tetep berburu informasi yang berujung ke sebuah artikel yang sangat menarik. Sebenarnya aku ingin mencantumkan link-nya di sini tapi aku lupa nama blog-nya dan susah kutemukan lagi. Blog ini tentang ranking diskriminasi terhadap orang asing di Arab Saudi yang diurut berdasarkan kewarganegaraan dan penampakan fisik. Blog ini ditulis oleh warga Arab Saudi yang mengakui tentang sering terjadinya tindakan rasisme dan diskriminasi di sana terhadap orang asing.

Berdasarkan data statistik yang diiformasikan oleh Arab News, 33% dari jumlah penduduk Arab Saudi adalah orang asing. Mereka tidak hanya terdiri dari berbagai macam kewarganegaraan tetapi juga menduduki posisi pekerjaan yang berbeda-beda, mulai dari top executive sampai yang paling bawah. Hal ini mendorong terbentuknya strata sosial yang berbeda-beda.

Menurut si blogger, pada intinya perlakukan diskriminasi (dan rasisme) di Arab Saudi terhadap orang asing bisa terjadi tanpa memandang kewarganegaraan, tetapi tingkatannya biasanya berbeda-beda tergantung warna passpor negara asal dan penampakan fisik orang asing tersebut. Jenis diskriminasi dan rasismenya pun beda-beda, mulai dari sikap, verbal sampai dengan urusan gaji. Si blogger  membuat rangking secara garis besar bukan case per case. Tentunya ada juga perkecualian. Dari urutan rangking, semakin ke atas perlakuannya semakin baik, sebaliknya semakin ke bawah semakin jelek.

Urutannya kira-kira seperti ini:

  1. Orang-orang Arab Gulf (Arab Saudi, UAE, Qatar, Bahrain, dst). Mereka ini menduduki posisi top food chain. Ya iyalah, ibaratnya kan mereka tuan tanahnya, yang lainnya pada nyewa. Beda dong. Tapi tentu saja nggak semua orang Arab Saudi kaya. Ada juga yang posisinya jauh lebih bawah dibanding orang asing.
  2. Orang ‘Barat’. Pengertiannya agak rancu. Kalo urusan profesi golongan ‘Barat’ ini otomatis termasuk yang berkulit hitam. Tapi dalam kehidupan sehari-hari orang barat kulit hitam sering disamaratakan dengan orang-orang dari negara-negara Afrika yang dalam ranking menduduki posisi paling bawah. Asumsi ini biasanya langsung hilang begitu terjadi percakapan. Kebetulan temanku yang dari US dan Perancis (dua-duanya berkulit hitam) beberapa kali mengalami situasi yang nggak meyenangkan gara-gara diasumsikan salah. Oh ya, golongan ‘Barat’ ini dalam urusan bisnis dibagi-bagi lagi levelnya, dengan USA menduduki rangking teratas, disusul Kanada, Inggris, negara-negara Eropa mainland, Australia dan New Zealand, dst. Orang-orang ini biasanya menduduki jabatan top executive. Dan sikap penduduk setempat terhadap orang-orang barat ini seperti love and hate. Nggak suka tapi perlu. Dihargai dan dihormati, tapi juga dipandang rendah karena budaya dan agama yang berseberangan. Bingung kan?
  3. Orang Arab lainnya (Yordania, Lebanon, Mesir, Palestina, dll). Meski sesama orang Arab level mereka nggak otomatis sebanding dengan orang Arab Gulf, tapi eksistensi mereka memang cukup dipertimbangkan. Mereka lebih dipercaya dibanding dengan orang asing ranking lebih bawah lainnya. Orang-orang Arab ini biasanya menduduki posisi Mid-range manager di perusahaan. Tapi nggak jarang juga yang menduduki posisi top executive.
  4. Orang Asia kulit kuning (Jepang, Korea, China, Taiwan, dll). Orang-orang dari negara-negara ini masuk kategori tenaga ahli. Makanya tetep nggak diremehkan. Hal ini menguntungkan bagi yang berasal dari negara-negara Asia Selatan tapi memiliki penampakan seperti mereka, misal Vietnam. Lolos dah. Temanku orang Vietnam selalu dikira orang Korea.
  5. Orang Asia Selatan. Nah, ini grup yang lumayan melas. Secara profesi grup ini di-breakdown lagi menjadi beberapa level.  a). India dan Pakistan. Banyak dari mereka menjadi tenaga kasar seperti pekerja bangunan, tukang kebun, sopir, dsb. Tapi banyak juga yang punya skill tinggi seperti guru, dokter, banker atau engineer. Biasanya orang-orang yang punya skill ini bisa ngeles dari perlakukan diskriminasi karena warna passpornya, karena banyak orang India memiliki passpor British. Masuk ke Arab Saudi ya jelas pakai passpor British dong. Selain bisa dapat gaji lebih tinggi juga bisa pake logat Britishnya buat ngeles (asli menurut pengakuan teman sendiri nih). Kalau orang Pakistan biasanya punya passpor Kanada atau US. Orang-orang yang punya passpor asing ini biasanya orang-orang kaya dari sononya yang dulunya sekolah di negara-negara Barat. b). Malaysia. Jangan salah, negara tetangga kita cukup dihormati di Arab Saudi karena profesi mereka. Malaysia nggak ngirim tenaga pembantu, sopir, dll. Orang-orang Malaysia kebanyakan bekerja di sektor industri dan kesehatan. Wanita Malaysia banyak yang menjadi perawat atau bidang adminstrasi. c). Philipina. Sebenarnya sih level Philipina nggak beda jauh sama Indonesia. Banyak TKW Philipina yang bekerja sebagai PRT. Hanya saja karena kemampuan bahasa Inggrisnya mereka lebih diminati oleh majikan-majikan bule dengan kondisi kerja part time alias jam-jaman. Gajipun otomatis lebih tinggi dan kondisi kerja lebih ringan. Disamping itu para lelakinya biasanya bekerja di bidang retail dan guest service seperti restaurant, hotel, dll. d). Srilanka, Bangladesh, Indonesia. Yah, kasihan banget deh level ini. Bukannya nggak ada yang punya skill tinggi dari negara-negara ini, tapi jumlahnya memang sedikit. Ada juga orang-orang Indonesia profesional tapi emang jaraaaang banget. Dengar-dengar orang Indonesia yang memiliki skill lebih memilih bekerja di UAE. Entah bener apa nggak. Jadi ya begitulah, di Arab Saudi Indonesia terkenalnya jadi ‘negara pembantu’.
  6. Orang berkulit hitam. Yang dimaksud di sini adalah pendatang dari negara-negara Afrika. Kebanyakan posisi pekerjaan mereka nggak jauh beda dengan rangking no. 5. Tapi orang-orang ini katanya yang paling sering mengalami perlakuan rasisme dan diskriminasi. Salah satu penyebabnya adalah stigma yang nempel dari jaman dahulu kala bahwa kebanyakan orang berkulit hitam di Arab Saudi adalah keturunan budak. Tapi nggak dijelaskan secara detail bagaimana dengan orang-orang Saudi yang memang berkulit hitam? Apakah mereka pun mendapat perlakuan diskriminasi? Entahlah.

Jadi bisa dibayangkan, setelah membaca blog tersebut aku langsung membayangkan diriku hidup di sana – aku yang orang Indonesia, yang berwajah asli Indonesia, dan berpasspor Indonesia.

Benarkah pendapat si blogger itu? Aku nggak bisa jawab 100%. Aku cuman bisa menjawab dari pengalaman pribadi setelah hidup di sana. Yuk kita lanjutkan ke babak kedua.

Pulang ke Indonesia tiba-tiba jadi majikan

2017-01-28majikan

Kembali ke tanah air setelah 15 tahun tinggal di luar negeri tiba-tiba aku menjadi ‘majikan’. Ada dua orang yang bekerja buatku kami: tukang kebun dan PRT. Mantab…

Seumur-umur aku belum pernah jadi majikan. Aku cuman seorang karyawan kantor sebelum menikah. Setelah menikah posisiku berubah menjadi manager – memenej keuangan, rumah, dan urusan sekolah anak. Selain jadi manager aku juga jadi pekerja serabutan – tukang masak, tukang cuci piring, tukang bersih-bersih, babby sitter, sopir, bahkan pernah jadi tukang cat dan tukang potong rumput. Lha sekarang tiba-tiba pekerjaanku itu semua diambil alih oleh orang lain dan tugasku nggak cuman memenej mereka tapi juga menggaji. Jadi aku sekarang seorang ‘majikan’.

Gile, level sosial naik nih!

Lalu jadi orang kaya kah aku sekarang? Haha… I wish. Nggak, babe. Kurs. Semua karena kurs mata uang asing yang kalau di-rupiahkan membuat orang asing yang di negaranya sono cuman orang-orang biasa, tiba-tiba di Indonesia seolah jadi orang berlebih. Karena aku bininya orang asing jadi kena imbasnya, seolah berada. 😉

Iyalah ngerti, punya asisten-asisten seperti itu cukup lumrah di Indonesia. Tapi bukan buat semua orang, seperti orang tuaku dulu saat aku masih kecil. Kami bukan orang kaya yang mampu membayar orang untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Almarhum bapakku pensiunan ABRI dengan pangkat biasa-biasa aja. Almarhumah ibuku juga ibu rumah tangga biasa. Kami semua cuman mengandalkan gaji bapakku yang jangankan buat bayar ART (dulu bahasaanya ‘pembantu’), buat kebutuhan sehari-hari aja ngepres.

Seperti layaknya anak sorodadu eh, serdadu kami dididik untuk menjadi orang yang disiplin. Seminggu sekali kami harus mencuci baju seragam sendiri, nyemir sepatu sendiri, dan setrika baju seragam sendiri. Karena bapakku orang yang perfeksionis (karena didikan militer kali ya), beliau juga suka mencuci sekaligus menyetrika bajunya sendiri. Alasannya ibuku kalau setrika suka menceng-menceng alias nggak alus dan licin. Alhasil, tiap hari Minggu kami sekeluarga bunya bak cuci sendiri-sendiri. Setelah sarapan pagi biasanya kami nyuci baju bareng dan main air. Kadang kegiatan nyuci diiringi kaset Kartolo CS (yang asli Jawa Timur pasti tahu siapa mereka), hingga kegiatan cuci mencuci menjadi ajang mbanyol dan ngakak. Oh, indahnya masa-masa itu…

Aku bersaudara empat. Tiap hari sebelum berangkat sekolah dan sore sebelum mandi kami berbagi tugas membantu ibu yaitu menyapu dan mengepel lintai. Kalau siang sepulang sekolah aku sama kakak perempuanku kebagian ngangkat jemuran dan lipat baju. Seminggu sekali ada pekerjaan tambahan, bersih-bersih cendela sama mebel (tapi kami suka lupa). Setelah agak besar, aku dan kakak perempuanku bantu masak di dapur.

Setelah meninggalkan rumah aku tinggal di kos-kosan. Ibu kosku biasanya punya pembantu. Nggak ada lagi urusan laundry atau bersih-bersih rumah. Setelah akhirnya dapat fasilitas rumah dari perusahaan pun aku nggak perlu kerja urusan rumah karena aku dan teman kerja yang bujang-bujang pada patungan buat bayar pembantu.

Eh, setelah menikah kok malah back to basic! Kerja bakti lagi, tapi lebih ekstrem. Semua-mua nya dikerjakan sendiri, tanpa bantuan siapapun kecuali suami. Untungnya suamiku (kayak kebanyakan para suami bule yang kutahu) suka ringan tangan. Kami berdua tanpa dikomando saling bantu. Biar sudah berdasi siap ngantor kalau harus ganti popok ya siap. Biar perempuan kalau waktunya servis mobil ya berangkat. Mau ngebor atau ngecat tembok ya dikerjakan berdua. Kalau hari minggu di musim semi/panas sekeluarga kerja bakti di kebun – motong rumput, cabut alang-alang, motong ranting nyuci teras, dan nyuci perabot kebun dan lain-lain.

Emang nggak bisa bayar tukang bersih-bersih? Pertanyaannya bukan bisa apa nggak, tapi ikhlas apa nggak. Ikhlas nggak bayar tukang bersih-bersih sekitar 10-15 Euro/jam atau sekitar Rp. 225.000/jam? Yang banyak duit sih pasti ikhlas-ikhlas lah. Kalo aku terus terang nggak ikhlas. Dan mayoritas orang sana nggak pake ART alias pembantu. Jadi di samping kerja part time atau full time orang sana juga mengerjakan semuanya sendiri, termasuk antar jemput anak sekolah dan les, belanja, ngurus cucian, masak dan bersih-bersih rumah. Jarang yang pakai jasa tukang bersih-bersih karena mahal. Mana ikhlas aku disuruh bayar hampir setengah juta hanya untuk bersih-bersih dua jam? Bener, ngitungnya harus pake ‘juta’, biar impaknya cetarrr!

Tapi asli gaya hidup mandiri di luar negeri betul-betul telah menggemblengku menjadi sosok yang terampil, cekatan, praktis, effisien, tepat waktu, dan strong. Bonusnya aku menjadi ahli bersih-bersih. Capek ngepel rumah satu lantai? Bayangin punya rumah empat lantai! Lantai harus divacuum-cleaning dulu baru dipel. Mesinnya ditenteng-tenteng naik turun empat lantai! Dah nggak perlu fitness lagi dah. Pasti ada yang mikir, ‘Gile, kaya nih orang, rumahnya aja empat lantai. Dah kayak Krisdayanti dong’. Sekedar info ya, rumah sana memang biasa dibangun berlantai-lantai termasuk basement atau bawah tanah. Jadi nggak spesial-spesial amat.

Dah gitu standar kebersihan orang sana (tempatku di Jerman) sangat tinggi alias harus kinclong. Bukannya takut dimarahi mertua kalau nggak kinclong, tapi malu sama suami. Soalnya dia (seperti kebanyakan suami Jerman yang kukenal) terbiasa bersih-bersih rumah juga, dan hasilnya emang suka kinclong. Lha kalau suami lihat debu di rak TV aja dia langsung ambil lap. Kalau ada piring panci habis dicuci dia siap mengeringkan dan masukkin lemari. Padahal dia tiap hari pergi gawe. Lha ya malu lah kalo aku males-malesan.

Nah, sekarang balik ke Indonesia tiba-tiba orang lain ambil alih pekerjaanku. Ikhlas?? Doh, ya ikhlas dooooong…. My dream comes true! Aku sekarang bisa punya banyak waktu buat nyalurin hobby, main sama anak, baca buku, ngopi di luar, dan lain-lain. Aku nggak perlu lagi muter-muter kayak helikopter. Yess!! Dan…oh, nikmatnya makan siang tinggal nyendok kalau pas kelaparan. Nggak perlu ribet ngambil cobek dulu, ngiris bawang dulu. I live in paradise. Begini ternyata rasanya jadi majikan.

Etapi….

Iya, ada tapinya. Rasanya kok aneh ya punya ‘staff’ di rumah? Kok tiba-tiba aku ngerasa kikuk dan nggak nyaman? Melihat orang-orang lain bekerja untukku, untuk menyenangkanku, sementara aku baca buku, santai nyruput teh hangat,  nulis blog di teras…? Oalah… ternyata aku nggak bakat jadi majikan. Bakatku cuman jadi pekerja. Aku nggak biasa dilayani. Aku biasa melayani diriku sendiri. Dan sikap mereka ke aku, oh, kok bikin aku merasa bersalah ya? Terlepas mereka tulus atau tidak, di depanku sikap mereka membuatku serasa jadi ndoro. Ingin rasanya aku bilang, ‘Kalian ini kan dibayar. Mau kerja ya kerja aja, nggak usah kikuk dan ndumuk-ndumuk‘. Tapi ada yang bilang: ‘Biar aja begitu, kalau nggak mereka bisa nglunjak.’ Duh, bunyinya serasa gatal di telinga. Gimana ceritanya orang bisa nglunjak begitu saja? Bukankah kalau kita menghormati mereka, menghargai pekerjaannya dan menunjukkan rasa terima kasih mereka pun akan bersikap sama ke kita?

Ternyata nggak gampang jadi majikan. Apalagi jabatan itu disandang tiap hari. Semuanya jadi serba formal. Aku tidak lagi bisa bersikap seperti aku kalau ada mereka. Mau seliweran pakai celana pendek nggak enak sama si bapak tukang kebun. Mau nonton TV nggak enak sama si ibu yang lagi ngepel. Anak-anak yang biasa menata kamarnya sendiri jadi merasa bersalah kalau mau ngacak-acak kamarnya yang sudah dirapikan.

Apalagi urusan menegur. Oh, berat sekali mengur pekerjaan yang salah, apalagi perilaku yang tidak menyenangkan. Tetep sih negur, tapi musti pake ancang-ancang dulu, gimana caranya supaya penyampainnya profesional dan nggak bikin tersinggung. Mending kerja kantoran, suka nggak suka cara bos negur kita tetep harus move on. Lha kalau bekerja di rumahan kan konteksnya kekeluargaan. Dekat tapi jauh, jauh tapi dekat. Komonukasi juga nggak bisa semau-maunya. Biar mereka hanya pekerja mereka harus juga merasa dihargai dan dihormati. Soalnya interaksi antara majikan dan pekerja jaminanya adalah rasa kepercayaan. Kan sehari-hari mereka ada dalam rumah. Kalau ada yang sakit hati kan jadi was-was juga mau meninggalkan rumah dengan segala isinya, atau bahkan meninggalkan anak di rumah sendiri. Serba salah juga.

Namanya orang kerja, pasti tak lepas dari membuat kesalahan. Menegur itu pasti terjadi. Apalagi aku merasa tuntutanku lumayan tinggi karena aku nggak cuman bisa protes tapi juga tahu bagaimana cara mengerjakannya. Sementara menurutku mereka sering nggak tahu bagaimana cara mengerjakannya. Apalagi aku sudah punya standar dalam urusan pekerjaan rumah. Bahkan kalau misal aku ngelamar kerja jadi ART aku yakin majikanku bakal puas sama kerjaanku. Bener, nggak nyombong (yailah, nyombong jadi ART).

Biarpun cuman bersih-bersih dan merapikan aku punya sistem. Sistem organisasiku dalam hal ngurus rumah cukup oye. Semuan terencana, terjadwal, dan rutin, nggak asal kerja serabutan yang nggak effisien. Itu semua karena kebiasaan hidup di luar negeri di mana waktu adalah uang, harus on time. Keteter satu jadi domino effect alias lainnya ikut keteteran juga. Dan kebiasaan itu terbawa sampai kembali ke Indonesia.

Semua ada persiapannya dan hal-hal sepele pun tak luput dari perhatianku. Terus terang banyak ART yang suka menyepelekan hal-hal kecil, misalnya area belakang di mana mereka bekerja dan beristirahat. Di dalam rumah utama semuanya kinclong, tapi kamar tidur dan kamar mandi mereka sendiri, whoah…! Masalahnya kalau mereka libur pas weekend atau tanggal merah aku akan menggunakan area mereka, misal untuk keperluan laundry. Jadi area ART tetep harus punya standar kebersihan dan kerapihan yang sama seperti ruang-ruang lainnya.

Sebelum kami merekrut mereka, area belakang tempat laundry dan kamar pekerja adalah area kekekuasaanku. Saat masih tinggal di luar negeri ruang laundry (kalau di Indonesia menjadi area ART) adalah salah satu ruang favoritku. Karena aku banyak menghabiskan waktu di ruang itu maka aku suka menata dan mendekorasinya. Kami tinggal di beberapa negara, dan tiap kali pindah ke rumah baru area laundry selalu menjadi proyek pertamaku untuk ditata. Begitu juga di Indonesia. Sebelum merekrut asisten, semua area dibersihkan, di cat ulang dengan warna cerah, dipasang lampu yang terang, dipasang rak-rak dan lemari dan didekorasi. Kamar mandi yang tadinya nggak jelas warnanya apa berubah jadi kinclong dan wangi. Bahkan saat ART hari pertama masuk kamarnya sudah rapi lengkap dengan segala keperluan untuk kenyamanan sebuah kamar tidur. Orang pasti mikir aku ini mengidap OCD (Obsessive Compulsive Disorder atau kelainan psikologis yang menyebabkan seseorang bisa menjadi super teratur). Padahal maksudku, agar orang bisa bekerja maksimal maka dia harus dibuat merasa nyaman dan betah.

Nah, bayangkan kalau pekerjaan mereka ternyata tanpa sistem dan standar? Di sinilah bakat manager ku tiba-tiba muncul. Doktrinisasi pun dimulai. Si majikan ini ternyata seorang Iron lady. Susah dipuaskan. Dan susahnya kalau orang nggak biasa mendelegasikan tugas maka nggak gampang mempercayai orang lain untuk melakukan tugas. Dikit-dikit suka kayak kaca spion, lirik sebentar buat ngecek. Alih alih pensil jatuh cuman buat nglirik lantainya bleret apa nggak. Alih-alih duduk di teras mata nyorot daun-daun yang kuning. Handuk, oh handuk, kenapa nglipetnya tumpang tindih awut-awutan? Duh, lap pel lantai luar kok dipakai buat yang dalam juga padahal sudah dipisah-pisah? Akhirnya banyak ‘duh’ nya…

Ah, kupikir capek juga jadi majikan. Tapi tanpa mereka pekerjaan rumah pun nggak gampang dikerjakan sendiri. Dibanding pekerjaan rumah di luar negeri pekerjaan di sini jauh lebih sulit dikerjakan. Bukan soal tenaga tapi soal waktu. Pekerjaan rumah di sini tidak bisa dikerjakan secara praktis dan effisien karena pengaruh beberapa faktor, misal faktor iklim dan alam – bagi rumah yang berada di daerah polusi mau meja dilap lima kali tetep aja debu balik lagi. Begitu cendela ada kisinya pasti jadi sarang debu kalau nggak sarang telur cicak. Terus faktor design – model rumah Indonesia itu cantik tapi nggak praktis. Terlalu banyak kisi, lekuk dan lobang. Untuk standar orang Jerman rumah model ala Indonesia yang banyak prikintilnya ini boros energi. Jadi rumah-rumah di sana modelnya rata-rata kayak kotak sepatu. Simpel. Jadi membersihkannya pun gampang. Ada lagi faktor peralatan bersih-bersih, misal mesin dan alat bantu. Kecuali mesin dan alat impor yang harganya mahal produk lokal biasanya terbuat dari plastik sehingga tidak kuat dan gampang rusak/copot. Mengerjakan dengan alat seperti ini pun jadi makan waktu karena harus dikerjakan berulang-ulang. Faktor budaya (byuh pake budaya segala!) – makanan Indonesia itu sangat lezat tapi nggak gampang masaknya. Pake marut, iris, tumis, aduk, dan nyiprat-nyiprat kalau menggoreng. Belum lagi minyak panas bikin dapur lengket, apalagi kalau dihinggapi debu. Kalau nggak langsung dibersihkan bisa ngetel. Bersih-bersih dapurnya pun jadi pekerjaan yang panjang dan njlimet sulit). Dengan kata lain, kalau mau membersihkan dan mengatur rumah sendiri di Indonesia maka aku harus menghabiskan waktu sehari penuh, dan itu besoknya pasti kotor lagi. Kapan ngopinya dong?

Kesimpulannya?

Emang oye punya asisten rumah tangga. Aku jadi punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang dulu sempat terbengkalai karena nggak punya banyak waktu. Aku pun jadi bisa lebih konsentrasi saat mendampingi anak baik belajar maupun bermain. Kehidupan sosial di luar rumah pun jadi lebih bervariasi. Tapi nggak oye-nya itu privacy jadi terganggu. Kehadiran orang asing di dalam rumah membuat suasana jadi tak senyaman sebelumnya. Perhatian dalam keluarga pun akhirnya terbagi untuk orang lain juga. Seolah ada tambahan jumlah keluarga dan kami harus membiasakan diri dengan jenis interaksi baru ini yang diluar kebiasaan semula.

Pulang ke tanah air

Pulang ke tanah air

Pulang ke tanah air setelah 15 tahun

Pulang ke tanah air dan tinggal di Indonesia adalah cita-citaku pada tahun-tahun awal tinggal di Jerman. Semua memori tentang tanah air selalu bikin rindu kampung halaman – rindu keluarga, teman, nasi Rawon ala warung, naik becak, Rujak Cingur, Pecel, tanaman yang berdaun lebat, belanja murah, dan lain lain. Musim panas biasanya ditunggu-tunggu agar bisa liburan ke Indonesia, obat sakit homesick.

Padahal tahun-tahun awal itu aku sangat sibuk dengan persiapan settling down – kursus bahasa Jerman intensif selama setahun (setiap hari mulai pagi sampai siang), proses bikin SIM yang panjang dan sulit, mengatur apartemen yang baru kami beli, hamil dan menjadi ibu untuk pertama kalinya. Tapi tetap, rasanya pingin pulang terus.

Kemudian pada tahun-tahun berikutnya terjadilah perubahan-perubahan penting dalam hidup kami. Secara beruntun dan akhirnya menjadi semacam pattern, tiap 3-4 tahun kami pindah dari negara satu ke negara lainnya. Mau gimana lagi, urusan mencari nafkah. Di selah-selah kepindahan lahirlah anak kedua. Hidup nomaden pun semakin membuatku (kami) sibuk. Jika dilihat secara garis besar hidup kami selama 15 tahun terakhir terisi oleh ngepak, pindah, buka karton, setlling down, dan siap-siap pindah lagi. Mimpi untuk pulang ke tanah air pun semakin berkurang.

Tentunya banyak segi positif dan negatif dari hidup berpindah-pindah. Salah satu segi positif adalah jumlah pengalaman yang terkumpul. Pengalaman telah membentuk kami menjadi pribadi-pribadi yang mudah beradaptasi, menerima keadaan, dan fleksibel. Sementara salah satu segi negatifnya adalah tantangan yang dihadapi anak-anak di sekolah. Dengan hidup berpindah-pindah tentunya sekolah pun juga berpindah-pindah. Akibatnya kehidupan sosial anak-anak pun berubah terus – terpisah dengan sahabat karib, membuat pertemanan baru, dan harus beradaptasi dengan lingkungan di sekolah yang baru. Dan itu berulang-ulang. Hal yang tidak mudah bagi mereka, bahkan kadang-kadang mempengaruhi prestasi mereka di sekolah. Seringkali mereka harus belajar lebih keras dibanding anak-anak lainnya yang sudah menetap lama di sekolah tersebut. Tidak jarang mereka harus mengejar pelajaran yang belum di dapat di sekolah sebelumnya atau menyesuaikan dengan sistem pelajaran di sekolah baru.

Karena masalah sekolah menjadi prioritas kami, maka kami pun memutuskan untuk berhenti berpindah-pindah. Kami mengambil kesepakatan bersama setelah SMA anak-anak akan melanjutkan pendidikan di Jerman. Tapi ada satu kendala, selama ini anak-anak mendapatkan pendidikan berkurikulum internasional. Bahasa utama mereka pun Bahasa Inggris. Meskipun berwarganegara Jerman, kemampuan bahasa Jerman mereka lumayan rendah. Percakapan dengan bahasa Jerman sehari-hari sering tercampur dangan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Tata bahasanya pun amburadul dan kemampuan baca tulisnya minim. Karena alasan tersebut kami sepakat untuk kembali ke Jerman secepatnya demi persiapan memasuki sistem pendidikan Jerman. Dan mimpi untuk pulang ke tanah air pun akhirnya benar-benar terkikis.

Saat lagi getol-getolnya persiapan balik ke Jerman tiba-tiba suami bertanya:

“Mau nggak pindah ke Indonesia?”

Aku melongo. Pertanyaan yang jika kudengar 15 tahun pasti akan membuatku loncat-loncat sekarang cuman bisa bikin melongo. 15 tahun aku menunggu, dan akhirnya pertanyaan itu datang, pada waktu yang salah. Kami baru saja membeli rumah di Jerman untuk persiapan balik, baru saja kami mendaftar sekolah buat anak-anak, aku sudah berangan-angan bekerja kembali setelah 15 tahun nganggur, dan yang lebih penting lagi aku sudah capek hidup pindah-pindah. Di usiaku sekarang ini aku hanya ingin hidup dalam sistem yang teratur, jelas, dan terprediksi. Aku membutuhkan rutinitas. Di Jerman aku sudah mengenal hampir semua sistemnya. Dan terus terang aku suka sekali dengan sistem di sana. Meski hidup berpindah-pindah, menikah dengan warga Jerman selama 15 tahun, yang home base-nya adalah Jerman, yang cara berpikirnya masih seperti orang Jerman, maka lambat-lambat aku jadi terbiasa. Istilahnya ‘angedeutscht’ atau ‘germanized’. Meski awalnya sangat sulit beradaptasi aku sekarang merasa sudah menjadi bagian dari sistem itu. Dan sekarang harus pindah ke Indonesia?

Ada perasaan kaget, bimbang, kecewa, khawatir, takut, dan yang lebih parah lagi perasaan bersalah. Kenapa aku cuman bisa plorak-plorok menanggapi pertanyaan suami? Kenapa aku nggak lonjak-lonjak? Kenapa nggak terbayang Nasi Rawon, Rujak Cingur, Pecel dan sebagainya? Kenapa nggak seperti suami yang sudah gegap gempita membayangkan tinggal kembali di tropical paradise di mana matahari bersinar sepanjang tahun?

Singkat cerita, ternyata kembali ke Indonesia adalah pilihan terbaik. Dengan kata lain di Indonesialah periuk nasi kami berikutnya. Bukan di Jerman. Dan kami pun mulai mengepak lagi diiringi  dengan keluhan anak-anak yang sudah terlanjur gembira membayangkan kembali pulang ke Jerman.

Mendekatai hari kepindahan pelan-pelan rasa kaget, bimbang, kecewa, khawatir, takut, dan bersalah mulai berubah menjadi exciting. Ternyata petualangan kami belum selesai. Kali ini aku akan berpetualang di negeriku sendiri.

Halo Dunia

Maka lahirlah blog ini.

Setelah ditimbang dan dipirkir.  Dan kesimpulan terakhir: ‘Halah, mau nulis mah nulis aja. Nggak perlu mikir panjang. Emang situ jurnalis sampai mikir sebegitu detailnya? Mau dibaca apa nggak, disuka apa nggak mana tahu kalo nggak ditulis dulu?’ Yo wis.

Lalu mikir, hem… pakai judul apa ya? Tema sih sudah jelas – Suka duka sebagai ibu RT nikah campuran. Jadi judul yang oke harusnya mewakili tema – begitu kata pakar blog. Temanya pasti kebanyakan tentang perbedaan antara Timur dan Barat, antara Asia dan Eropa, atau lebih tepatnya antara Indonesia dan Jerman. Naluriku bilang harus disimbolkan dengan sesuatu yang simpel, jelas, dan gampang diingat. Makanan! Ya, apalagi kalau bukan makanan? Makanan yang paling disukai dan sekaligus mewakili budaya kedua pihak, aku dan suami.

Yang Jerman dulu deh. Makanan apa ya yang ‘Jerman bingits’? Sekilas terbayang pengalaman di perayaan Oktoberfest, aha, PRETZEL!!! Yup, Pretzel (atau ‘Brezel‘ bahasa Jermannya) adalah makanan kesukaan suami dan masyarakat Jerman umumnya.

Lalu makanan kesukaannku? Ah, PECEL! I love pecel.  Wong kulo tiyang Jowo sing doyan sanget kale pecel kok. Lha aku orang Jawa yang suka banget sama pecel kok.

Dan di sinilah diumumkan, PECEL DAN PRETZEL. 

Silahkan membaca. Mudah-mudahan suka.

Salam,

Yang suka Pecel.