Pulang ke tanah air

Pulang ke tanah air

Pulang ke tanah air setelah 15 tahun

Pulang ke tanah air dan tinggal di Indonesia adalah cita-citaku pada tahun-tahun awal tinggal di Jerman. Semua memori tentang tanah air selalu bikin rindu kampung halaman – rindu keluarga, teman, nasi Rawon ala warung, naik becak, Rujak Cingur, Pecel, tanaman yang berdaun lebat, belanja murah, dan lain lain. Musim panas biasanya ditunggu-tunggu agar bisa liburan ke Indonesia, obat sakit homesick.

Padahal tahun-tahun awal itu aku sangat sibuk dengan persiapan settling down – kursus bahasa Jerman intensif selama setahun (setiap hari mulai pagi sampai siang), proses bikin SIM yang panjang dan sulit, mengatur apartemen yang baru kami beli, hamil dan menjadi ibu untuk pertama kalinya. Tapi tetap, rasanya pingin pulang terus.

Kemudian pada tahun-tahun berikutnya terjadilah perubahan-perubahan penting dalam hidup kami. Secara beruntun dan akhirnya menjadi semacam pattern, tiap 3-4 tahun kami pindah dari negara satu ke negara lainnya. Mau gimana lagi, urusan mencari nafkah. Di selah-selah kepindahan lahirlah anak kedua. Hidup nomaden pun semakin membuatku (kami) sibuk. Jika dilihat secara garis besar hidup kami selama 15 tahun terakhir terisi oleh ngepak, pindah, buka karton, setlling down, dan siap-siap pindah lagi. Mimpi untuk pulang ke tanah air pun semakin berkurang.

Tentunya banyak segi positif dan negatif dari hidup berpindah-pindah. Salah satu segi positif adalah jumlah pengalaman yang terkumpul. Pengalaman telah membentuk kami menjadi pribadi-pribadi yang mudah beradaptasi, menerima keadaan, dan fleksibel. Sementara salah satu segi negatifnya adalah tantangan yang dihadapi anak-anak di sekolah. Dengan hidup berpindah-pindah tentunya sekolah pun juga berpindah-pindah. Akibatnya kehidupan sosial anak-anak pun berubah terus – terpisah dengan sahabat karib, membuat pertemanan baru, dan harus beradaptasi dengan lingkungan di sekolah yang baru. Dan itu berulang-ulang. Hal yang tidak mudah bagi mereka, bahkan kadang-kadang mempengaruhi prestasi mereka di sekolah. Seringkali mereka harus belajar lebih keras dibanding anak-anak lainnya yang sudah menetap lama di sekolah tersebut. Tidak jarang mereka harus mengejar pelajaran yang belum di dapat di sekolah sebelumnya atau menyesuaikan dengan sistem pelajaran di sekolah baru.

Karena masalah sekolah menjadi prioritas kami, maka kami pun memutuskan untuk berhenti berpindah-pindah. Kami mengambil kesepakatan bersama setelah SMA anak-anak akan melanjutkan pendidikan di Jerman. Tapi ada satu kendala, selama ini anak-anak mendapatkan pendidikan berkurikulum internasional. Bahasa utama mereka pun Bahasa Inggris. Meskipun berwarganegara Jerman, kemampuan bahasa Jerman mereka lumayan rendah. Percakapan dengan bahasa Jerman sehari-hari sering tercampur dangan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Tata bahasanya pun amburadul dan kemampuan baca tulisnya minim. Karena alasan tersebut kami sepakat untuk kembali ke Jerman secepatnya demi persiapan memasuki sistem pendidikan Jerman. Dan mimpi untuk pulang ke tanah air pun akhirnya benar-benar terkikis.

Saat lagi getol-getolnya persiapan balik ke Jerman tiba-tiba suami bertanya:

“Mau nggak pindah ke Indonesia?”

Aku melongo. Pertanyaan yang jika kudengar 15 tahun pasti akan membuatku loncat-loncat sekarang cuman bisa bikin melongo. 15 tahun aku menunggu, dan akhirnya pertanyaan itu datang, pada waktu yang salah. Kami baru saja membeli rumah di Jerman untuk persiapan balik, baru saja kami mendaftar sekolah buat anak-anak, aku sudah berangan-angan bekerja kembali setelah 15 tahun nganggur, dan yang lebih penting lagi aku sudah capek hidup pindah-pindah. Di usiaku sekarang ini aku hanya ingin hidup dalam sistem yang teratur, jelas, dan terprediksi. Aku membutuhkan rutinitas. Di Jerman aku sudah mengenal hampir semua sistemnya. Dan terus terang aku suka sekali dengan sistem di sana. Meski hidup berpindah-pindah, menikah dengan warga Jerman selama 15 tahun, yang home base-nya adalah Jerman, yang cara berpikirnya masih seperti orang Jerman, maka lambat-lambat aku jadi terbiasa. Istilahnya ‘angedeutscht’ atau ‘germanized’. Meski awalnya sangat sulit beradaptasi aku sekarang merasa sudah menjadi bagian dari sistem itu. Dan sekarang harus pindah ke Indonesia?

Ada perasaan kaget, bimbang, kecewa, khawatir, takut, dan yang lebih parah lagi perasaan bersalah. Kenapa aku cuman bisa plorak-plorok menanggapi pertanyaan suami? Kenapa aku nggak lonjak-lonjak? Kenapa nggak terbayang Nasi Rawon, Rujak Cingur, Pecel dan sebagainya? Kenapa nggak seperti suami yang sudah gegap gempita membayangkan tinggal kembali di tropical paradise di mana matahari bersinar sepanjang tahun?

Singkat cerita, ternyata kembali ke Indonesia adalah pilihan terbaik. Dengan kata lain di Indonesialah periuk nasi kami berikutnya. Bukan di Jerman. Dan kami pun mulai mengepak lagi diiringi  dengan keluhan anak-anak yang sudah terlanjur gembira membayangkan kembali pulang ke Jerman.

Mendekatai hari kepindahan pelan-pelan rasa kaget, bimbang, kecewa, khawatir, takut, dan bersalah mulai berubah menjadi exciting. Ternyata petualangan kami belum selesai. Kali ini aku akan berpetualang di negeriku sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s