Pulang ke Indonesia tiba-tiba jadi majikan

2017-01-28majikan

Kembali ke tanah air setelah 15 tahun tinggal di luar negeri tiba-tiba aku menjadi ‘majikan’. Ada dua orang yang bekerja buatku kami: tukang kebun dan PRT. Mantab…

Seumur-umur aku belum pernah jadi majikan. Aku cuman seorang karyawan kantor sebelum menikah. Setelah menikah posisiku berubah menjadi manager – memenej keuangan, rumah, dan urusan sekolah anak. Selain jadi manager aku juga jadi pekerja serabutan – tukang masak, tukang cuci piring, tukang bersih-bersih, babby sitter, sopir, bahkan pernah jadi tukang cat dan tukang potong rumput. Lha sekarang tiba-tiba pekerjaanku itu semua diambil alih oleh orang lain dan tugasku nggak cuman memenej mereka tapi juga menggaji. Jadi aku sekarang seorang ‘majikan’.

Gile, level sosial naik nih!

Lalu jadi orang kaya kah aku sekarang? Haha… I wish. Nggak, babe. Kurs. Semua karena kurs mata uang asing yang kalau di-rupiahkan membuat orang asing yang di negaranya sono cuman orang-orang biasa, tiba-tiba di Indonesia seolah jadi orang berlebih. Karena aku bininya orang asing jadi kena imbasnya, seolah berada. 😉

Iyalah ngerti, punya asisten-asisten seperti itu cukup lumrah di Indonesia. Tapi bukan buat semua orang, seperti orang tuaku dulu saat aku masih kecil. Kami bukan orang kaya yang mampu membayar orang untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Almarhum bapakku pensiunan ABRI dengan pangkat biasa-biasa aja. Almarhumah ibuku juga ibu rumah tangga biasa. Kami semua cuman mengandalkan gaji bapakku yang jangankan buat bayar ART (dulu bahasaanya ‘pembantu’), buat kebutuhan sehari-hari aja ngepres.

Seperti layaknya anak sorodadu eh, serdadu kami dididik untuk menjadi orang yang disiplin. Seminggu sekali kami harus mencuci baju seragam sendiri, nyemir sepatu sendiri, dan setrika baju seragam sendiri. Karena bapakku orang yang perfeksionis (karena didikan militer kali ya), beliau juga suka mencuci sekaligus menyetrika bajunya sendiri. Alasannya ibuku kalau setrika suka menceng-menceng alias nggak alus dan licin. Alhasil, tiap hari Minggu kami sekeluarga bunya bak cuci sendiri-sendiri. Setelah sarapan pagi biasanya kami nyuci baju bareng dan main air. Kadang kegiatan nyuci diiringi kaset Kartolo CS (yang asli Jawa Timur pasti tahu siapa mereka), hingga kegiatan cuci mencuci menjadi ajang mbanyol dan ngakak. Oh, indahnya masa-masa itu…

Aku bersaudara empat. Tiap hari sebelum berangkat sekolah dan sore sebelum mandi kami berbagi tugas membantu ibu yaitu menyapu dan mengepel lintai. Kalau siang sepulang sekolah aku sama kakak perempuanku kebagian ngangkat jemuran dan lipat baju. Seminggu sekali ada pekerjaan tambahan, bersih-bersih cendela sama mebel (tapi kami suka lupa). Setelah agak besar, aku dan kakak perempuanku bantu masak di dapur.

Setelah meninggalkan rumah aku tinggal di kos-kosan. Ibu kosku biasanya punya pembantu. Nggak ada lagi urusan laundry atau bersih-bersih rumah. Setelah akhirnya dapat fasilitas rumah dari perusahaan pun aku nggak perlu kerja urusan rumah karena aku dan teman kerja yang bujang-bujang pada patungan buat bayar pembantu.

Eh, setelah menikah kok malah back to basic! Kerja bakti lagi, tapi lebih ekstrem. Semua-mua nya dikerjakan sendiri, tanpa bantuan siapapun kecuali suami. Untungnya suamiku (kayak kebanyakan para suami bule yang kutahu) suka ringan tangan. Kami berdua tanpa dikomando saling bantu. Biar sudah berdasi siap ngantor kalau harus ganti popok ya siap. Biar perempuan kalau waktunya servis mobil ya berangkat. Mau ngebor atau ngecat tembok ya dikerjakan berdua. Kalau hari minggu di musim semi/panas sekeluarga kerja bakti di kebun – motong rumput, cabut alang-alang, motong ranting nyuci teras, dan nyuci perabot kebun dan lain-lain.

Emang nggak bisa bayar tukang bersih-bersih? Pertanyaannya bukan bisa apa nggak, tapi ikhlas apa nggak. Ikhlas nggak bayar tukang bersih-bersih sekitar 10-15 Euro/jam atau sekitar Rp. 225.000/jam? Yang banyak duit sih pasti ikhlas-ikhlas lah. Kalo aku terus terang nggak ikhlas. Dan mayoritas orang sana nggak pake ART alias pembantu. Jadi di samping kerja part time atau full time orang sana juga mengerjakan semuanya sendiri, termasuk antar jemput anak sekolah dan les, belanja, ngurus cucian, masak dan bersih-bersih rumah. Jarang yang pakai jasa tukang bersih-bersih karena mahal. Mana ikhlas aku disuruh bayar hampir setengah juta hanya untuk bersih-bersih dua jam? Bener, ngitungnya harus pake ‘juta’, biar impaknya cetarrr!

Tapi asli gaya hidup mandiri di luar negeri betul-betul telah menggemblengku menjadi sosok yang terampil, cekatan, praktis, effisien, tepat waktu, dan strong. Bonusnya aku menjadi ahli bersih-bersih. Capek ngepel rumah satu lantai? Bayangin punya rumah empat lantai! Lantai harus divacuum-cleaning dulu baru dipel. Mesinnya ditenteng-tenteng naik turun empat lantai! Dah nggak perlu fitness lagi dah. Pasti ada yang mikir, ‘Gile, kaya nih orang, rumahnya aja empat lantai. Dah kayak Krisdayanti dong’. Sekedar info ya, rumah sana memang biasa dibangun berlantai-lantai termasuk basement atau bawah tanah. Jadi nggak spesial-spesial amat.

Dah gitu standar kebersihan orang sana (tempatku di Jerman) sangat tinggi alias harus kinclong. Bukannya takut dimarahi mertua kalau nggak kinclong, tapi malu sama suami. Soalnya dia (seperti kebanyakan suami Jerman yang kukenal) terbiasa bersih-bersih rumah juga, dan hasilnya emang suka kinclong. Lha kalau suami lihat debu di rak TV aja dia langsung ambil lap. Kalau ada piring panci habis dicuci dia siap mengeringkan dan masukkin lemari. Padahal dia tiap hari pergi gawe. Lha ya malu lah kalo aku males-malesan.

Nah, sekarang balik ke Indonesia tiba-tiba orang lain ambil alih pekerjaanku. Ikhlas?? Doh, ya ikhlas dooooong…. My dream comes true! Aku sekarang bisa punya banyak waktu buat nyalurin hobby, main sama anak, baca buku, ngopi di luar, dan lain-lain. Aku nggak perlu lagi muter-muter kayak helikopter. Yess!! Dan…oh, nikmatnya makan siang tinggal nyendok kalau pas kelaparan. Nggak perlu ribet ngambil cobek dulu, ngiris bawang dulu. I live in paradise. Begini ternyata rasanya jadi majikan.

Etapi….

Iya, ada tapinya. Rasanya kok aneh ya punya ‘staff’ di rumah? Kok tiba-tiba aku ngerasa kikuk dan nggak nyaman? Melihat orang-orang lain bekerja untukku, untuk menyenangkanku, sementara aku baca buku, santai nyruput teh hangat,  nulis blog di teras…? Oalah… ternyata aku nggak bakat jadi majikan. Bakatku cuman jadi pekerja. Aku nggak biasa dilayani. Aku biasa melayani diriku sendiri. Dan sikap mereka ke aku, oh, kok bikin aku merasa bersalah ya? Terlepas mereka tulus atau tidak, di depanku sikap mereka membuatku serasa jadi ndoro. Ingin rasanya aku bilang, ‘Kalian ini kan dibayar. Mau kerja ya kerja aja, nggak usah kikuk dan ndumuk-ndumuk‘. Tapi ada yang bilang: ‘Biar aja begitu, kalau nggak mereka bisa nglunjak.’ Duh, bunyinya serasa gatal di telinga. Gimana ceritanya orang bisa nglunjak begitu saja? Bukankah kalau kita menghormati mereka, menghargai pekerjaannya dan menunjukkan rasa terima kasih mereka pun akan bersikap sama ke kita?

Ternyata nggak gampang jadi majikan. Apalagi jabatan itu disandang tiap hari. Semuanya jadi serba formal. Aku tidak lagi bisa bersikap seperti aku kalau ada mereka. Mau seliweran pakai celana pendek nggak enak sama si bapak tukang kebun. Mau nonton TV nggak enak sama si ibu yang lagi ngepel. Anak-anak yang biasa menata kamarnya sendiri jadi merasa bersalah kalau mau ngacak-acak kamarnya yang sudah dirapikan.

Apalagi urusan menegur. Oh, berat sekali mengur pekerjaan yang salah, apalagi perilaku yang tidak menyenangkan. Tetep sih negur, tapi musti pake ancang-ancang dulu, gimana caranya supaya penyampainnya profesional dan nggak bikin tersinggung. Mending kerja kantoran, suka nggak suka cara bos negur kita tetep harus move on. Lha kalau bekerja di rumahan kan konteksnya kekeluargaan. Dekat tapi jauh, jauh tapi dekat. Komonukasi juga nggak bisa semau-maunya. Biar mereka hanya pekerja mereka harus juga merasa dihargai dan dihormati. Soalnya interaksi antara majikan dan pekerja jaminanya adalah rasa kepercayaan. Kan sehari-hari mereka ada dalam rumah. Kalau ada yang sakit hati kan jadi was-was juga mau meninggalkan rumah dengan segala isinya, atau bahkan meninggalkan anak di rumah sendiri. Serba salah juga.

Namanya orang kerja, pasti tak lepas dari membuat kesalahan. Menegur itu pasti terjadi. Apalagi aku merasa tuntutanku lumayan tinggi karena aku nggak cuman bisa protes tapi juga tahu bagaimana cara mengerjakannya. Sementara menurutku mereka sering nggak tahu bagaimana cara mengerjakannya. Apalagi aku sudah punya standar dalam urusan pekerjaan rumah. Bahkan kalau misal aku ngelamar kerja jadi ART aku yakin majikanku bakal puas sama kerjaanku. Bener, nggak nyombong (yailah, nyombong jadi ART).

Biarpun cuman bersih-bersih dan merapikan aku punya sistem. Sistem organisasiku dalam hal ngurus rumah cukup oye. Semuan terencana, terjadwal, dan rutin, nggak asal kerja serabutan yang nggak effisien. Itu semua karena kebiasaan hidup di luar negeri di mana waktu adalah uang, harus on time. Keteter satu jadi domino effect alias lainnya ikut keteteran juga. Dan kebiasaan itu terbawa sampai kembali ke Indonesia.

Semua ada persiapannya dan hal-hal sepele pun tak luput dari perhatianku. Terus terang banyak ART yang suka menyepelekan hal-hal kecil, misalnya area belakang di mana mereka bekerja dan beristirahat. Di dalam rumah utama semuanya kinclong, tapi kamar tidur dan kamar mandi mereka sendiri, whoah…! Masalahnya kalau mereka libur pas weekend atau tanggal merah aku akan menggunakan area mereka, misal untuk keperluan laundry. Jadi area ART tetep harus punya standar kebersihan dan kerapihan yang sama seperti ruang-ruang lainnya.

Sebelum kami merekrut mereka, area belakang tempat laundry dan kamar pekerja adalah area kekekuasaanku. Saat masih tinggal di luar negeri ruang laundry (kalau di Indonesia menjadi area ART) adalah salah satu ruang favoritku. Karena aku banyak menghabiskan waktu di ruang itu maka aku suka menata dan mendekorasinya. Kami tinggal di beberapa negara, dan tiap kali pindah ke rumah baru area laundry selalu menjadi proyek pertamaku untuk ditata. Begitu juga di Indonesia. Sebelum merekrut asisten, semua area dibersihkan, di cat ulang dengan warna cerah, dipasang lampu yang terang, dipasang rak-rak dan lemari dan didekorasi. Kamar mandi yang tadinya nggak jelas warnanya apa berubah jadi kinclong dan wangi. Bahkan saat ART hari pertama masuk kamarnya sudah rapi lengkap dengan segala keperluan untuk kenyamanan sebuah kamar tidur. Orang pasti mikir aku ini mengidap OCD (Obsessive Compulsive Disorder atau kelainan psikologis yang menyebabkan seseorang bisa menjadi super teratur). Padahal maksudku, agar orang bisa bekerja maksimal maka dia harus dibuat merasa nyaman dan betah.

Nah, bayangkan kalau pekerjaan mereka ternyata tanpa sistem dan standar? Di sinilah bakat manager ku tiba-tiba muncul. Doktrinisasi pun dimulai. Si majikan ini ternyata seorang Iron lady. Susah dipuaskan. Dan susahnya kalau orang nggak biasa mendelegasikan tugas maka nggak gampang mempercayai orang lain untuk melakukan tugas. Dikit-dikit suka kayak kaca spion, lirik sebentar buat ngecek. Alih alih pensil jatuh cuman buat nglirik lantainya bleret apa nggak. Alih-alih duduk di teras mata nyorot daun-daun yang kuning. Handuk, oh handuk, kenapa nglipetnya tumpang tindih awut-awutan? Duh, lap pel lantai luar kok dipakai buat yang dalam juga padahal sudah dipisah-pisah? Akhirnya banyak ‘duh’ nya…

Ah, kupikir capek juga jadi majikan. Tapi tanpa mereka pekerjaan rumah pun nggak gampang dikerjakan sendiri. Dibanding pekerjaan rumah di luar negeri pekerjaan di sini jauh lebih sulit dikerjakan. Bukan soal tenaga tapi soal waktu. Pekerjaan rumah di sini tidak bisa dikerjakan secara praktis dan effisien karena pengaruh beberapa faktor, misal faktor iklim dan alam – bagi rumah yang berada di daerah polusi mau meja dilap lima kali tetep aja debu balik lagi. Begitu cendela ada kisinya pasti jadi sarang debu kalau nggak sarang telur cicak. Terus faktor design – model rumah Indonesia itu cantik tapi nggak praktis. Terlalu banyak kisi, lekuk dan lobang. Untuk standar orang Jerman rumah model ala Indonesia yang banyak prikintilnya ini boros energi. Jadi rumah-rumah di sana modelnya rata-rata kayak kotak sepatu. Simpel. Jadi membersihkannya pun gampang. Ada lagi faktor peralatan bersih-bersih, misal mesin dan alat bantu. Kecuali mesin dan alat impor yang harganya mahal produk lokal biasanya terbuat dari plastik sehingga tidak kuat dan gampang rusak/copot. Mengerjakan dengan alat seperti ini pun jadi makan waktu karena harus dikerjakan berulang-ulang. Faktor budaya (byuh pake budaya segala!) – makanan Indonesia itu sangat lezat tapi nggak gampang masaknya. Pake marut, iris, tumis, aduk, dan nyiprat-nyiprat kalau menggoreng. Belum lagi minyak panas bikin dapur lengket, apalagi kalau dihinggapi debu. Kalau nggak langsung dibersihkan bisa ngetel. Bersih-bersih dapurnya pun jadi pekerjaan yang panjang dan njlimet sulit). Dengan kata lain, kalau mau membersihkan dan mengatur rumah sendiri di Indonesia maka aku harus menghabiskan waktu sehari penuh, dan itu besoknya pasti kotor lagi. Kapan ngopinya dong?

Kesimpulannya?

Emang oye punya asisten rumah tangga. Aku jadi punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang dulu sempat terbengkalai karena nggak punya banyak waktu. Aku pun jadi bisa lebih konsentrasi saat mendampingi anak baik belajar maupun bermain. Kehidupan sosial di luar rumah pun jadi lebih bervariasi. Tapi nggak oye-nya itu privacy jadi terganggu. Kehadiran orang asing di dalam rumah membuat suasana jadi tak senyaman sebelumnya. Perhatian dalam keluarga pun akhirnya terbagi untuk orang lain juga. Seolah ada tambahan jumlah keluarga dan kami harus membiasakan diri dengan jenis interaksi baru ini yang diluar kebiasaan semula.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s