Perempuan Indonesia dan stigma PRT di Arab Saudi (Bagian 1)

2017-02-09-stigma-perempuan-indonesia

Waktu dapat kabar suami dapat tawaran kerja di Arab Saudi ibu mertuaku protes. Dia nggak setuju karena khawatir sama anak mantunya. Dimaklumi, dia orang Jerman. Kebanyakan orang Jerman punya opini seragam tentang Arab Saudi. Dan opini yang paling mengusik mereka adalah ‘penindasan kaum perempuan’. Dan mertuapun penasaran. Berhari-hari browsing internet, nyari informasi tentang gaya hidup di Arab Saudi. Tapi berita yang dia dapat justru yang aneh-aneh. Jangan-jangan dia cuman pakai keyword negatif. Yang muncul berita yang sadis-sadis – perempuan diperkosa tapi malah masuk penjara, perempuan dicerai lewat Skype, TKW disiksa, dan sejenisnya. Lha…??

Sementara ibu mertua mengkhawatirkan hal-hal yang dirasa berat untuk standar orang bule, aku justru mengkhawatirkan hal-hal yang kurasa berat untuk standar orang Indonesia. Soalnya apa yang dirasa ‘berat’ untuk standar bule buatku sih biasa-biasa aja. Misal, mertua keberatan kalau perempuan harus pakai abaya hitam dan kemana-mana harus ditemani suami. Dia pikir aturan itu dibuat untuk membatasi kebebasan perempuan. Sementara buatku abaya hitam adalah bagian dari adat dan budaya setempat. Namanya pendatang mau ngais rejeki, ya harus nurut tata tertib setempat toh? Seperti peribahasa: ‘Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung’, yang artinya kita sebaiknya selalu mengikuti kebiasaan dan adat istiadat di tempat kita berada.

Yang aku khawatirkan itu justru hal-hal yang mengarah ke pribadiku, seperti rasisme atau diskriminasi. Nah, yang sering kita dengar tentang Arab Saudi terhadap saudara-saudara kita di sana kan dua hal tersebut? Jadinya kan aku agak was-was. Apalagi setelah berkali-kali browsing dengan dua keyword ‘Indonesia’ dan ‘Arab Saudi’ kok ya berita yang muncul justru bikin  gundah gulana, terutama yang menyangkut nasib orang Indonesia.

Meski belum kami putuskan tetap kami berangkat ke Riyadh untuk survey. Kok ya pas waktu itu pemberitaan tentang TKW Ruyati binti Satubi Saruna yang terjerat hukuman pancung lagi gencar-gencarnya diberitakan. Wuahh, emosional hamba. Apalagi pas perjalanan ke airport mau pulang aku sempat lihat pemandangan yang mengusik. Di bawah sebuah jembatan layang aku lihat banyak sekali orang-orang Asia yang mirip orang Indonesia lagi tidur-tiduran, jemur baju, nimang anak… Mereka laki-laki, perempuan, tua, muda, dan anak-anak. Di sekitar mereka banyak sampah, box-box dan koper. Aku langsung mikir, lho, katanya laki perempuan nggak boleh campur tapi ini kok nggerombol? Di tempat umum lagi. Wong di McDonald aja ngantrinya di pisah laki sama perempuan. Lha ini kok malah cangkruk bercengkerama? Sebelum sempat nanya, calon kolega suami yang satu mobil dengan kami (dia orang Saudi campuran Austria) menjelaskan kalau mereka adalah warga Indonesia ilegal yang akan dideportasi. Mak cleguk! Langsung seret tenggorokan. Lhoalah Gusti, sesak dadaku. Aku mikir, beginikah gambaran bangsaku di negara ini? Aku tanya sama si blasteran ini, kok mereka boleh campur gitu? Kok nggak diobrak-obrak sama Mutawa (polisi syariah). Dengan wajah agak kikuk kayak sungkan dia bilang kalau mereka itu perkecualian. Pemerintah sudah nggak tahu lagi bagaimana mengatasinya. Jumlahnya terlalu banyak. Secara aturan memang dilarang laki peremupan ngumpul jadi satu, tapi gimana lagi? Jadi ya dibiarkan saja.

Sekali lagi, oalah Gusti, aturan Arab Saudi yang super ketat aja bisa mental dalam menghadapi masalah bangsaku sampai masuk ‘perkecualian’, hanya saja ini bukan perkecualian dalam arti istimewa tapi sebaliknya. Lha sampai nggak diurus begitu?Bangsaku ketere-tere di bawah jembatan. Lha nggak heran kalau ada yang meremehkan mereka, mengangap rendah, ndablek, nggak nurut aturan… Nggak usah mikir gimana pandangan orang Saudi terhadap mereka, cukup bayangkan bagaimana pandangan tenaga kerja dari negara lainnya. Ngenes.

Singkat cerita setelah semua paperwork tuntas kami memutuskan berangkat. Dua minggu sebelum keberangkatan kami menghadiri Cross Culture training yang disediakan perusahaan. Tujuannya agar kami tidak menghadapi shock culture di sana. Si trainer cukup ahli di bidangnya, khususnya tentang budaya Timur Tengah. Dia sendiri berasal dari Oman yang sudah lama tinggal dan bekerja di Jerman. Dalam training tersebut kami belajar untuk memahami adanya benturan-benturan antara budaya Timur Tengah dan Eropa dan bagaimana cara mengatasinya. Tema yang nggak nyrempet sama kepentinganku sebagai orang Indonesia. Tema itu memang penting buat suami, tapi dia sudah pernah tinggal di Iran yang peraturan-peraturannya buat standar bule juga cukup ketat, mirip seperti di Arab Saudi. Dari pengalaman itu aku yakin dia akan cepat beradaptasi dengan tata cara kehidupan di Arab Saudi. Sementara buatku tema Arab Saudi tentunya bukan hal asing meski aku belum pernah tinggal di sana. Setidaknya aku sudah pernah dengar atau baca. Jadi dua jam training tersebut rasanya lama sekali karena sebagian besar topik sudah kami mengerti. Aku yakin tanpa training pun suamiku akan baik-baik saja selama dia mentaati peraturan setempat. Halah, menurut informasi kehidupan orang bule di Arab Saudi itu lumayan oye kok. Dari beberapa blog yang aku baca gambaran kehidupan orang bule di sana itu seperti ‘perjalanan eksplorasi budaya’ yang diwarnai dengan traveling, art, top ten kulinaris dan shopping, koleksi Abaya terkini, perkumpulan wanita asing, kegiatan charity, workshop, coffee morning dan sejenisnya. Beda amat sama cerita-cerita TKW kita! Akhirnya aku justru minta si trainer menjelaskan gimana nanti nasibku di sana sebagai warga Indonesia? Apakah aku juga bakal menghadapi diskriminasi atau rasisme? Dia meyakinkanku aku tidak akan mengalami kedua hal tersebut karena kondisiku di sana bukan sebagai pekerja domestik.

Nggak puas, aku tetep berburu informasi yang berujung ke sebuah artikel yang sangat menarik. Sebenarnya aku ingin mencantumkan link-nya di sini tapi aku lupa nama blog-nya dan susah kutemukan lagi. Blog ini tentang ranking diskriminasi terhadap orang asing di Arab Saudi yang diurut berdasarkan kewarganegaraan dan penampakan fisik. Blog ini ditulis oleh warga Arab Saudi yang mengakui tentang sering terjadinya tindakan rasisme dan diskriminasi di sana terhadap orang asing.

Berdasarkan data statistik yang diiformasikan oleh Arab News, 33% dari jumlah penduduk Arab Saudi adalah orang asing. Mereka tidak hanya terdiri dari berbagai macam kewarganegaraan tetapi juga menduduki posisi pekerjaan yang berbeda-beda, mulai dari top executive sampai yang paling bawah. Hal ini mendorong terbentuknya strata sosial yang berbeda-beda.

Menurut si blogger, pada intinya perlakukan diskriminasi (dan rasisme) di Arab Saudi terhadap orang asing bisa terjadi tanpa memandang kewarganegaraan, tetapi tingkatannya biasanya berbeda-beda tergantung warna passpor negara asal dan penampakan fisik orang asing tersebut. Jenis diskriminasi dan rasismenya pun beda-beda, mulai dari sikap, verbal sampai dengan urusan gaji. Si blogger  membuat rangking secara garis besar bukan case per case. Tentunya ada juga perkecualian. Dari urutan rangking, semakin ke atas perlakuannya semakin baik, sebaliknya semakin ke bawah semakin jelek.

Urutannya kira-kira seperti ini:

  1. Orang-orang Arab Gulf (Arab Saudi, UAE, Qatar, Bahrain, dst). Mereka ini menduduki posisi top food chain. Ya iyalah, ibaratnya kan mereka tuan tanahnya, yang lainnya pada nyewa. Beda dong. Tapi tentu saja nggak semua orang Arab Saudi kaya. Ada juga yang posisinya jauh lebih bawah dibanding orang asing.
  2. Orang ‘Barat’. Pengertiannya agak rancu. Kalo urusan profesi golongan ‘Barat’ ini otomatis termasuk yang berkulit hitam. Tapi dalam kehidupan sehari-hari orang barat kulit hitam sering disamaratakan dengan orang-orang dari negara-negara Afrika yang dalam ranking menduduki posisi paling bawah. Asumsi ini biasanya langsung hilang begitu terjadi percakapan. Kebetulan temanku yang dari US dan Perancis (dua-duanya berkulit hitam) beberapa kali mengalami situasi yang nggak meyenangkan gara-gara diasumsikan salah. Oh ya, golongan ‘Barat’ ini dalam urusan bisnis dibagi-bagi lagi levelnya, dengan USA menduduki rangking teratas, disusul Kanada, Inggris, negara-negara Eropa mainland, Australia dan New Zealand, dst. Orang-orang ini biasanya menduduki jabatan top executive. Dan sikap penduduk setempat terhadap orang-orang barat ini seperti love and hate. Nggak suka tapi perlu. Dihargai dan dihormati, tapi juga dipandang rendah karena budaya dan agama yang berseberangan. Bingung kan?
  3. Orang Arab lainnya (Yordania, Lebanon, Mesir, Palestina, dll). Meski sesama orang Arab level mereka nggak otomatis sebanding dengan orang Arab Gulf, tapi eksistensi mereka memang cukup dipertimbangkan. Mereka lebih dipercaya dibanding dengan orang asing ranking lebih bawah lainnya. Orang-orang Arab ini biasanya menduduki posisi Mid-range manager di perusahaan. Tapi nggak jarang juga yang menduduki posisi top executive.
  4. Orang Asia kulit kuning (Jepang, Korea, China, Taiwan, dll). Orang-orang dari negara-negara ini masuk kategori tenaga ahli. Makanya tetep nggak diremehkan. Hal ini menguntungkan bagi yang berasal dari negara-negara Asia Selatan tapi memiliki penampakan seperti mereka, misal Vietnam. Lolos dah. Temanku orang Vietnam selalu dikira orang Korea.
  5. Orang Asia Selatan. Nah, ini grup yang lumayan melas. Secara profesi grup ini di-breakdown lagi menjadi beberapa level.  a). India dan Pakistan. Banyak dari mereka menjadi tenaga kasar seperti pekerja bangunan, tukang kebun, sopir, dsb. Tapi banyak juga yang punya skill tinggi seperti guru, dokter, banker atau engineer. Biasanya orang-orang yang punya skill ini bisa ngeles dari perlakukan diskriminasi karena warna passpornya, karena banyak orang India memiliki passpor British. Masuk ke Arab Saudi ya jelas pakai passpor British dong. Selain bisa dapat gaji lebih tinggi juga bisa pake logat Britishnya buat ngeles (asli menurut pengakuan teman sendiri nih). Kalau orang Pakistan biasanya punya passpor Kanada atau US. Orang-orang yang punya passpor asing ini biasanya orang-orang kaya dari sononya yang dulunya sekolah di negara-negara Barat. b). Malaysia. Jangan salah, negara tetangga kita cukup dihormati di Arab Saudi karena profesi mereka. Malaysia nggak ngirim tenaga pembantu, sopir, dll. Orang-orang Malaysia kebanyakan bekerja di sektor industri dan kesehatan. Wanita Malaysia banyak yang menjadi perawat atau bidang adminstrasi. c). Philipina. Sebenarnya sih level Philipina nggak beda jauh sama Indonesia. Banyak TKW Philipina yang bekerja sebagai PRT. Hanya saja karena kemampuan bahasa Inggrisnya mereka lebih diminati oleh majikan-majikan bule dengan kondisi kerja part time alias jam-jaman. Gajipun otomatis lebih tinggi dan kondisi kerja lebih ringan. Disamping itu para lelakinya biasanya bekerja di bidang retail dan guest service seperti restaurant, hotel, dll. d). Srilanka, Bangladesh, Indonesia. Yah, kasihan banget deh level ini. Bukannya nggak ada yang punya skill tinggi dari negara-negara ini, tapi jumlahnya memang sedikit. Ada juga orang-orang Indonesia profesional tapi emang jaraaaang banget. Dengar-dengar orang Indonesia yang memiliki skill lebih memilih bekerja di UAE. Entah bener apa nggak. Jadi ya begitulah, di Arab Saudi Indonesia terkenalnya jadi ‘negara pembantu’.
  6. Orang berkulit hitam. Yang dimaksud di sini adalah pendatang dari negara-negara Afrika. Kebanyakan posisi pekerjaan mereka nggak jauh beda dengan rangking no. 5. Tapi orang-orang ini katanya yang paling sering mengalami perlakuan rasisme dan diskriminasi. Salah satu penyebabnya adalah stigma yang nempel dari jaman dahulu kala bahwa kebanyakan orang berkulit hitam di Arab Saudi adalah keturunan budak. Tapi nggak dijelaskan secara detail bagaimana dengan orang-orang Saudi yang memang berkulit hitam? Apakah mereka pun mendapat perlakuan diskriminasi? Entahlah.

Jadi bisa dibayangkan, setelah membaca blog tersebut aku langsung membayangkan diriku hidup di sana – aku yang orang Indonesia, yang berwajah asli Indonesia, dan berpasspor Indonesia.

Benarkah pendapat si blogger itu? Aku nggak bisa jawab 100%. Aku cuman bisa menjawab dari pengalaman pribadi setelah hidup di sana. Yuk kita lanjutkan ke babak kedua.

Pulang ke Indonesia tiba-tiba jadi majikan

2017-01-28majikan

Kembali ke tanah air setelah 15 tahun tinggal di luar negeri tiba-tiba aku menjadi ‘majikan’. Ada dua orang yang bekerja buatku kami: tukang kebun dan PRT. Mantab…

Seumur-umur aku belum pernah jadi majikan. Aku cuman seorang karyawan kantor sebelum menikah. Setelah menikah posisiku berubah menjadi manager – memenej keuangan, rumah, dan urusan sekolah anak. Selain jadi manager aku juga jadi pekerja serabutan – tukang masak, tukang cuci piring, tukang bersih-bersih, babby sitter, sopir, bahkan pernah jadi tukang cat dan tukang potong rumput. Lha sekarang tiba-tiba pekerjaanku itu semua diambil alih oleh orang lain dan tugasku nggak cuman memenej mereka tapi juga menggaji. Jadi aku sekarang seorang ‘majikan’.

Gile, level sosial naik nih!

Lalu jadi orang kaya kah aku sekarang? Haha… I wish. Nggak, babe. Kurs. Semua karena kurs mata uang asing yang kalau di-rupiahkan membuat orang asing yang di negaranya sono cuman orang-orang biasa, tiba-tiba di Indonesia seolah jadi orang berlebih. Karena aku bininya orang asing jadi kena imbasnya, seolah berada. 😉

Iyalah ngerti, punya asisten-asisten seperti itu cukup lumrah di Indonesia. Tapi bukan buat semua orang, seperti orang tuaku dulu saat aku masih kecil. Kami bukan orang kaya yang mampu membayar orang untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Almarhum bapakku pensiunan ABRI dengan pangkat biasa-biasa aja. Almarhumah ibuku juga ibu rumah tangga biasa. Kami semua cuman mengandalkan gaji bapakku yang jangankan buat bayar ART (dulu bahasaanya ‘pembantu’), buat kebutuhan sehari-hari aja ngepres.

Seperti layaknya anak sorodadu eh, serdadu kami dididik untuk menjadi orang yang disiplin. Seminggu sekali kami harus mencuci baju seragam sendiri, nyemir sepatu sendiri, dan setrika baju seragam sendiri. Karena bapakku orang yang perfeksionis (karena didikan militer kali ya), beliau juga suka mencuci sekaligus menyetrika bajunya sendiri. Alasannya ibuku kalau setrika suka menceng-menceng alias nggak alus dan licin. Alhasil, tiap hari Minggu kami sekeluarga bunya bak cuci sendiri-sendiri. Setelah sarapan pagi biasanya kami nyuci baju bareng dan main air. Kadang kegiatan nyuci diiringi kaset Kartolo CS (yang asli Jawa Timur pasti tahu siapa mereka), hingga kegiatan cuci mencuci menjadi ajang mbanyol dan ngakak. Oh, indahnya masa-masa itu…

Aku bersaudara empat. Tiap hari sebelum berangkat sekolah dan sore sebelum mandi kami berbagi tugas membantu ibu yaitu menyapu dan mengepel lintai. Kalau siang sepulang sekolah aku sama kakak perempuanku kebagian ngangkat jemuran dan lipat baju. Seminggu sekali ada pekerjaan tambahan, bersih-bersih cendela sama mebel (tapi kami suka lupa). Setelah agak besar, aku dan kakak perempuanku bantu masak di dapur.

Setelah meninggalkan rumah aku tinggal di kos-kosan. Ibu kosku biasanya punya pembantu. Nggak ada lagi urusan laundry atau bersih-bersih rumah. Setelah akhirnya dapat fasilitas rumah dari perusahaan pun aku nggak perlu kerja urusan rumah karena aku dan teman kerja yang bujang-bujang pada patungan buat bayar pembantu.

Eh, setelah menikah kok malah back to basic! Kerja bakti lagi, tapi lebih ekstrem. Semua-mua nya dikerjakan sendiri, tanpa bantuan siapapun kecuali suami. Untungnya suamiku (kayak kebanyakan para suami bule yang kutahu) suka ringan tangan. Kami berdua tanpa dikomando saling bantu. Biar sudah berdasi siap ngantor kalau harus ganti popok ya siap. Biar perempuan kalau waktunya servis mobil ya berangkat. Mau ngebor atau ngecat tembok ya dikerjakan berdua. Kalau hari minggu di musim semi/panas sekeluarga kerja bakti di kebun – motong rumput, cabut alang-alang, motong ranting nyuci teras, dan nyuci perabot kebun dan lain-lain.

Emang nggak bisa bayar tukang bersih-bersih? Pertanyaannya bukan bisa apa nggak, tapi ikhlas apa nggak. Ikhlas nggak bayar tukang bersih-bersih sekitar 10-15 Euro/jam atau sekitar Rp. 225.000/jam? Yang banyak duit sih pasti ikhlas-ikhlas lah. Kalo aku terus terang nggak ikhlas. Dan mayoritas orang sana nggak pake ART alias pembantu. Jadi di samping kerja part time atau full time orang sana juga mengerjakan semuanya sendiri, termasuk antar jemput anak sekolah dan les, belanja, ngurus cucian, masak dan bersih-bersih rumah. Jarang yang pakai jasa tukang bersih-bersih karena mahal. Mana ikhlas aku disuruh bayar hampir setengah juta hanya untuk bersih-bersih dua jam? Bener, ngitungnya harus pake ‘juta’, biar impaknya cetarrr!

Tapi asli gaya hidup mandiri di luar negeri betul-betul telah menggemblengku menjadi sosok yang terampil, cekatan, praktis, effisien, tepat waktu, dan strong. Bonusnya aku menjadi ahli bersih-bersih. Capek ngepel rumah satu lantai? Bayangin punya rumah empat lantai! Lantai harus divacuum-cleaning dulu baru dipel. Mesinnya ditenteng-tenteng naik turun empat lantai! Dah nggak perlu fitness lagi dah. Pasti ada yang mikir, ‘Gile, kaya nih orang, rumahnya aja empat lantai. Dah kayak Krisdayanti dong’. Sekedar info ya, rumah sana memang biasa dibangun berlantai-lantai termasuk basement atau bawah tanah. Jadi nggak spesial-spesial amat.

Dah gitu standar kebersihan orang sana (tempatku di Jerman) sangat tinggi alias harus kinclong. Bukannya takut dimarahi mertua kalau nggak kinclong, tapi malu sama suami. Soalnya dia (seperti kebanyakan suami Jerman yang kukenal) terbiasa bersih-bersih rumah juga, dan hasilnya emang suka kinclong. Lha kalau suami lihat debu di rak TV aja dia langsung ambil lap. Kalau ada piring panci habis dicuci dia siap mengeringkan dan masukkin lemari. Padahal dia tiap hari pergi gawe. Lha ya malu lah kalo aku males-malesan.

Nah, sekarang balik ke Indonesia tiba-tiba orang lain ambil alih pekerjaanku. Ikhlas?? Doh, ya ikhlas dooooong…. My dream comes true! Aku sekarang bisa punya banyak waktu buat nyalurin hobby, main sama anak, baca buku, ngopi di luar, dan lain-lain. Aku nggak perlu lagi muter-muter kayak helikopter. Yess!! Dan…oh, nikmatnya makan siang tinggal nyendok kalau pas kelaparan. Nggak perlu ribet ngambil cobek dulu, ngiris bawang dulu. I live in paradise. Begini ternyata rasanya jadi majikan.

Etapi….

Iya, ada tapinya. Rasanya kok aneh ya punya ‘staff’ di rumah? Kok tiba-tiba aku ngerasa kikuk dan nggak nyaman? Melihat orang-orang lain bekerja untukku, untuk menyenangkanku, sementara aku baca buku, santai nyruput teh hangat,  nulis blog di teras…? Oalah… ternyata aku nggak bakat jadi majikan. Bakatku cuman jadi pekerja. Aku nggak biasa dilayani. Aku biasa melayani diriku sendiri. Dan sikap mereka ke aku, oh, kok bikin aku merasa bersalah ya? Terlepas mereka tulus atau tidak, di depanku sikap mereka membuatku serasa jadi ndoro. Ingin rasanya aku bilang, ‘Kalian ini kan dibayar. Mau kerja ya kerja aja, nggak usah kikuk dan ndumuk-ndumuk‘. Tapi ada yang bilang: ‘Biar aja begitu, kalau nggak mereka bisa nglunjak.’ Duh, bunyinya serasa gatal di telinga. Gimana ceritanya orang bisa nglunjak begitu saja? Bukankah kalau kita menghormati mereka, menghargai pekerjaannya dan menunjukkan rasa terima kasih mereka pun akan bersikap sama ke kita?

Ternyata nggak gampang jadi majikan. Apalagi jabatan itu disandang tiap hari. Semuanya jadi serba formal. Aku tidak lagi bisa bersikap seperti aku kalau ada mereka. Mau seliweran pakai celana pendek nggak enak sama si bapak tukang kebun. Mau nonton TV nggak enak sama si ibu yang lagi ngepel. Anak-anak yang biasa menata kamarnya sendiri jadi merasa bersalah kalau mau ngacak-acak kamarnya yang sudah dirapikan.

Apalagi urusan menegur. Oh, berat sekali mengur pekerjaan yang salah, apalagi perilaku yang tidak menyenangkan. Tetep sih negur, tapi musti pake ancang-ancang dulu, gimana caranya supaya penyampainnya profesional dan nggak bikin tersinggung. Mending kerja kantoran, suka nggak suka cara bos negur kita tetep harus move on. Lha kalau bekerja di rumahan kan konteksnya kekeluargaan. Dekat tapi jauh, jauh tapi dekat. Komonukasi juga nggak bisa semau-maunya. Biar mereka hanya pekerja mereka harus juga merasa dihargai dan dihormati. Soalnya interaksi antara majikan dan pekerja jaminanya adalah rasa kepercayaan. Kan sehari-hari mereka ada dalam rumah. Kalau ada yang sakit hati kan jadi was-was juga mau meninggalkan rumah dengan segala isinya, atau bahkan meninggalkan anak di rumah sendiri. Serba salah juga.

Namanya orang kerja, pasti tak lepas dari membuat kesalahan. Menegur itu pasti terjadi. Apalagi aku merasa tuntutanku lumayan tinggi karena aku nggak cuman bisa protes tapi juga tahu bagaimana cara mengerjakannya. Sementara menurutku mereka sering nggak tahu bagaimana cara mengerjakannya. Apalagi aku sudah punya standar dalam urusan pekerjaan rumah. Bahkan kalau misal aku ngelamar kerja jadi ART aku yakin majikanku bakal puas sama kerjaanku. Bener, nggak nyombong (yailah, nyombong jadi ART).

Biarpun cuman bersih-bersih dan merapikan aku punya sistem. Sistem organisasiku dalam hal ngurus rumah cukup oye. Semuan terencana, terjadwal, dan rutin, nggak asal kerja serabutan yang nggak effisien. Itu semua karena kebiasaan hidup di luar negeri di mana waktu adalah uang, harus on time. Keteter satu jadi domino effect alias lainnya ikut keteteran juga. Dan kebiasaan itu terbawa sampai kembali ke Indonesia.

Semua ada persiapannya dan hal-hal sepele pun tak luput dari perhatianku. Terus terang banyak ART yang suka menyepelekan hal-hal kecil, misalnya area belakang di mana mereka bekerja dan beristirahat. Di dalam rumah utama semuanya kinclong, tapi kamar tidur dan kamar mandi mereka sendiri, whoah…! Masalahnya kalau mereka libur pas weekend atau tanggal merah aku akan menggunakan area mereka, misal untuk keperluan laundry. Jadi area ART tetep harus punya standar kebersihan dan kerapihan yang sama seperti ruang-ruang lainnya.

Sebelum kami merekrut mereka, area belakang tempat laundry dan kamar pekerja adalah area kekekuasaanku. Saat masih tinggal di luar negeri ruang laundry (kalau di Indonesia menjadi area ART) adalah salah satu ruang favoritku. Karena aku banyak menghabiskan waktu di ruang itu maka aku suka menata dan mendekorasinya. Kami tinggal di beberapa negara, dan tiap kali pindah ke rumah baru area laundry selalu menjadi proyek pertamaku untuk ditata. Begitu juga di Indonesia. Sebelum merekrut asisten, semua area dibersihkan, di cat ulang dengan warna cerah, dipasang lampu yang terang, dipasang rak-rak dan lemari dan didekorasi. Kamar mandi yang tadinya nggak jelas warnanya apa berubah jadi kinclong dan wangi. Bahkan saat ART hari pertama masuk kamarnya sudah rapi lengkap dengan segala keperluan untuk kenyamanan sebuah kamar tidur. Orang pasti mikir aku ini mengidap OCD (Obsessive Compulsive Disorder atau kelainan psikologis yang menyebabkan seseorang bisa menjadi super teratur). Padahal maksudku, agar orang bisa bekerja maksimal maka dia harus dibuat merasa nyaman dan betah.

Nah, bayangkan kalau pekerjaan mereka ternyata tanpa sistem dan standar? Di sinilah bakat manager ku tiba-tiba muncul. Doktrinisasi pun dimulai. Si majikan ini ternyata seorang Iron lady. Susah dipuaskan. Dan susahnya kalau orang nggak biasa mendelegasikan tugas maka nggak gampang mempercayai orang lain untuk melakukan tugas. Dikit-dikit suka kayak kaca spion, lirik sebentar buat ngecek. Alih alih pensil jatuh cuman buat nglirik lantainya bleret apa nggak. Alih-alih duduk di teras mata nyorot daun-daun yang kuning. Handuk, oh handuk, kenapa nglipetnya tumpang tindih awut-awutan? Duh, lap pel lantai luar kok dipakai buat yang dalam juga padahal sudah dipisah-pisah? Akhirnya banyak ‘duh’ nya…

Ah, kupikir capek juga jadi majikan. Tapi tanpa mereka pekerjaan rumah pun nggak gampang dikerjakan sendiri. Dibanding pekerjaan rumah di luar negeri pekerjaan di sini jauh lebih sulit dikerjakan. Bukan soal tenaga tapi soal waktu. Pekerjaan rumah di sini tidak bisa dikerjakan secara praktis dan effisien karena pengaruh beberapa faktor, misal faktor iklim dan alam – bagi rumah yang berada di daerah polusi mau meja dilap lima kali tetep aja debu balik lagi. Begitu cendela ada kisinya pasti jadi sarang debu kalau nggak sarang telur cicak. Terus faktor design – model rumah Indonesia itu cantik tapi nggak praktis. Terlalu banyak kisi, lekuk dan lobang. Untuk standar orang Jerman rumah model ala Indonesia yang banyak prikintilnya ini boros energi. Jadi rumah-rumah di sana modelnya rata-rata kayak kotak sepatu. Simpel. Jadi membersihkannya pun gampang. Ada lagi faktor peralatan bersih-bersih, misal mesin dan alat bantu. Kecuali mesin dan alat impor yang harganya mahal produk lokal biasanya terbuat dari plastik sehingga tidak kuat dan gampang rusak/copot. Mengerjakan dengan alat seperti ini pun jadi makan waktu karena harus dikerjakan berulang-ulang. Faktor budaya (byuh pake budaya segala!) – makanan Indonesia itu sangat lezat tapi nggak gampang masaknya. Pake marut, iris, tumis, aduk, dan nyiprat-nyiprat kalau menggoreng. Belum lagi minyak panas bikin dapur lengket, apalagi kalau dihinggapi debu. Kalau nggak langsung dibersihkan bisa ngetel. Bersih-bersih dapurnya pun jadi pekerjaan yang panjang dan njlimet sulit). Dengan kata lain, kalau mau membersihkan dan mengatur rumah sendiri di Indonesia maka aku harus menghabiskan waktu sehari penuh, dan itu besoknya pasti kotor lagi. Kapan ngopinya dong?

Kesimpulannya?

Emang oye punya asisten rumah tangga. Aku jadi punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang dulu sempat terbengkalai karena nggak punya banyak waktu. Aku pun jadi bisa lebih konsentrasi saat mendampingi anak baik belajar maupun bermain. Kehidupan sosial di luar rumah pun jadi lebih bervariasi. Tapi nggak oye-nya itu privacy jadi terganggu. Kehadiran orang asing di dalam rumah membuat suasana jadi tak senyaman sebelumnya. Perhatian dalam keluarga pun akhirnya terbagi untuk orang lain juga. Seolah ada tambahan jumlah keluarga dan kami harus membiasakan diri dengan jenis interaksi baru ini yang diluar kebiasaan semula.