Ditertawakan naik ojek karena istri bule

2017-01-11-gojek.jpg

Perempuan Indonesia yang menikah dengan bule pasti tidak lepas dari penilaian. Macam-macam label yang ditempelkan dan sayangnya kebanyakan bernada negatif. Tapi di sini aku nggak ingin membahas semua label-label itu. Cuman satu yang ingin kusenggol – label OKB (orang kaya baru). Konon katanya banyak perempuan Indonesia istri bule yang  suka pamer harta dan sok kaya (plus suka gengsi). Jadi nggak heran kalau semua istri bule suka disamaratakan seperti itu. Nah, sehubungan dengan label OKB ini aku jadi kena imbasnya – aku ditertawakan naik ojek.  Lho, apa hubungannya? Ada cing! Karena, seharusnya, seyogyanya, selayaknya ‘Nyai Dasimah’ nggak naik ojek. Bukankah ‘Tuan Meneer Edward’ itu duitnya banyak? Emang nggak bisa beli mobil? Ih pasti si Meneer bule kere! Begitu kira-kira.

OJEK. Sekitar 15-17 tahun lalu aku sudah lihat di mana-mana terutama di daerah terpencil. Ojek diminati karena biayanya yang murah dan effisien. Cuman waktu itu masih banyak orang yang gengsi naik ojek terutama anak muda. Nggak keren atau nggak ‘kekotaan’ katanya. Ada juga yang bilang naik ojek tuh keliatan tanda tak mampu beli kendaraan. Makanya waktu tinggal di Bangkok, aku kaget ketika pertama kali melihat ojek ada di mana-mana. Yang naik mulai gadis cantik mulus sampai bule. Aku nggak tahu apa orang Thai yang kaya juga naik ojek. Yang aku tahu pemandangan orang asing (terutama bule) naik ojek bukan hal yang aneh. Padahal, seperti di Indonesia juga, di Thailand orang bule itu dianggap seperti ‘Tuan Meneer Edward’ yang kaya. Pada jam-jam macet sering kulihat bule berdasi dan bawa tas laptop naik ojek. Di Jakarta aku juga beberapa kali lihat bule naik ojek, tapi tidak sebanyak di Bangkok. Mungkin karena orang asing  di Jakarta nggak sebanyak di Bangkok.

Di Bangkok kami sering naik ojek untuk menghindari kemacetan. Biasanya kami naik ojek untuk pergi ke stasiun MRT atau Skytrain. Sering juga pak sopir cuma ngedrop di satu titik lalu kami tukar dengan ojek sampai tujuan. Makanya pas pindah Jakarta kami langsung tertarik dengan aplikasi Gojek yang menurutku sangat oye! Dengan bangganya kupamerkan ke teman-teman Thai ku dan mereka sekarang lagi berharap harap adanya sistem kayak Gojek di negaranya.

Di Jakarta aku menggunakan jasa ojek sekitar 2-3 kali seminggu untuk pergi nge-gym atau ke kelas yoga yang lokasinya hanya lima menit dari rumah. Bayangin kalo aku harus naik mobil atau taxi? Bisa menyumbangkan kemacetan daerahku yang memang terkenal maceeettt!!

Tapi ternyata, meski jasa ojek beraplikasi sudah sangat populer saat ini, dan bahkan beberapa selebriti kabarnya juga naik ojek, nggak semua orang berminat naik ojek dengan alasan tertentu. Selain dua alasan yang sangat kumaklumi – yaitu risih dibonceng laki-laki yang bukan muhrimnya dan alasan keselamatan, ada juga satu lagi alasan yang bikin aku takjub – gengsi. Alasan gengsi ini membuat orang rela lebih lama di jalan dengan naik mobil atau taxi meski jaraknya cuman beberapa km, yang penting nggak sampai kepanasan, kena polusi, keringatan, dan rambut awut-awutan. Memang sih, ojek bukan sarana transport yang tepat buat berangkat kondangan. Apalagi buat para fashionista, big no no – begitu helm dicopot rambut langsung kempes. Tapi kalau sekedar pergi ke acara casual apalagi kalau jarak dekat ojek adalah transport yang tepat. Menurutku sih, soalnya aku tergolong manusia casual.

Oh ya, aku tuh sudah biasa naik motor atau dibonceng motor. Waktu kecil transportku ke sekolah malah sepedah. Naik motor setelah punya penghasilan sendiri. Waktu itu mampu beli motor rasanya gaya banget. Setelah tinggal di Jerman justru aku lebih suka naik sepedah meski ada mobil. Jiwa orang sana yang suka ‘back to basic’, ‘back to nature’ dan segala back-backan lainnya sedikit banyak telah ‘meracuniku’. Di Jerman kalau memungkinkan (pas musimnya pas dan bukan tinggal di pegunungan) orang cendrung milih naik sepedah ketimbang naik mobil atas alasan hemat energi (karena bahan bakar mahal), kesehatan dan lingkungan. Bahkan di kota tempat tinggalku orang ngantor pake jas dan dasi pun transportnya sepedah. Nggak ada yang namanya gengsi. Tapi begitu kembali ke Indonesia mind-set ‘back-back ‘an yang sudah terpatri tiba-tiba harus direset ulang – bahwa seolah tingkat kesejahteraan penduduk Indonesia itu diukur dari jumlah roda kendaraannya. Roda harus empat, nggak boleh lebih dan nggak boleh kurang (kecuali kalau roda duanya itu Ducati Multistrada).

DITERTAWAKAN SANG FASHIONISTA

Ceritanya ada teman lama datang ke rumah. Sedikit gossip tentag temanku ini, dia ini tipe wanita fashionista yang kalau di medsos haram hukumnya masang foto jelek. Kebanyakan foto selfinya pasti di event-event mewah atau minim di dalam mobil. Dia hampir selalu tampil chic. Sekilas baca postingnya, check-in nya, atau lihat fotonya orang pasti mikir dia pasti dari golongan yang bantalnya berisi lembaran gambar Bung Karno. Yang menarik, berdasarkan kabar burung katanya temanku ini sebenarnya dari golongan ‘BPJS’ alias Bajet Pas-pasan Jiwa Sosialita. Entah benar apa nggak, bukan hakku untuk menilai, tapi yang aku tahu memang dari dulu aku nggak pernah lihat dia naik angkot. Dia lebih milih pinjam uang teman buat naik taxi daripada naik angkot, meski angkot seliweran di depan hidung. Aku juga nggak pernah lihat dia naik motor, dan nggak bisa kubayangkan dia naik ojek.

Kebetulan hari itu aku baru pulang nge-gym. Melihatku turun dari ojek dia tertawa.

“Aih si Mrs. Bule naik ojek!” katanya sambil tertawa lembeng genit nan manja. Aku tersenyum kecut, bukan karena ledekannya, tapi karena sebutan Mrs. Bule. Kecewa aja karena secara tak langsung aku kena label OKB seperti yang kusebut di atas.

“Emang istri bulu dilarang naik ojek ya?” tanyaku bercanda.

Dia jadi salah tingkah.

“Bukan gitu Say, cuman kaget aja ternyata kamu mau juga naik ojek.”

“Emang kamu nggak pernah naik ojek?” tanyaku pura-pura amnesia.

“Aku tuh say, bukannya nggak mau naik motor. Dari kecil aku nggak pernah naik motor. Jangankan naik, ngelihat orang naik aja dah atuuut..” katanya lagi.

PSST…SESAMA ISTRI BULE JANGAN BILANG-BILANG KALAU NAIK OJEK

Pengalaman kedua saat aku janjian ngopi dengan teman baru di sebuah mall. Jaraknya juga lima menit dari rumah. Si teman baru ini orangnya baik dan ramah. Suaminya juga orang asing. Terus terang aku niat berteman dengan dia karena ‘jatuh cinta’ pandangan pertama. Dia jauh dari kesan label-label yang suka ditempel ke para Missis Bule. Si ibu ini orangnya sederhana dan gaya bicaranya pun down to earth. Pokoknya ngobrol sama dia menyenangkan.

Pas mau pulang tiba-tiba mendung. Kami pun resah takut kena macet kalo hujan deras. Aku pun pamit pingin cepat-cepat pulang sebelum keburu hujan. Lumayanlah lima menit pasti dah nyampai rumah. Percakapannya begini:

“Bawa mobil atau diantar sopir mbak?” tanya si ibu ini.

“Oh aku tadi naik ojek. Aku juga mau pulang naik ojek nih. Mesti cepet-cepet pesen mumpung belum hujan.” jawabku sambil buka applikasi ojek.

Lha, si ibu ini tertawa sambil nutup mulutnya. “Hah? Naik ojek mbak?” katanya terkaget-kaget sambil tertawa. Tapi begitu lihat mukaku yang sengaja kupasang seolah heran melihatnya tertawa dia buru-buru berhenti tertawa. Aku jelaskan ke dia: “Rumahku cuman lima menit dari sini mbak. Kalau aku naik taksi atau naik mobil bisa setengah jam nyampe rumah. Males ah, nambah-nambahin macet aja.”

IBU JURAGAN KOK NAIK OJEK?

Ceritanya dapat PRT baru. Waktu pesan ojek aku lupa ngasih tahu dia. Lama nunggu di garasi si sopir ojek nggak datang-datang. Si PRT nanya:

“Ibu lagi nunggu apa kok dari tadi lama duduk di garasi?”

“Lagi nunggu ojek.”

“Oh, jadi ojek tadi itu buat ibu? Maaf bu saya suruh pergi.”

“Kok disuruh pergi?”

“Lha, saya pikir salah alamat. Saya kan nggak pesen ojek, trus di rumah cuman kita berdua aja. Ya, saya nggak nyangka kalau ibu pesen ojek.”

“Emang saya nggak boleh pesen ojek?”

Sambil senyum-senyum si PRT baru bilang: “Ya kayaknya nggak mungkin gitu lho ibu boss naik ojek.”

GLODAK!!!

Gimana, kalian pernah punya pengalaman seperti di atas?

Advertisements